Istimewa/Radar Surabaya
BANGGA: Pameran Seni Nasional ArtEduCare#15 Surakarta diikuti ratusan seniman di Indonesia. Anak-anak Surabaya menunjukkan prestasinya bisa mengikuti
RADAR SURABAYA – Semangat dan idealisme anak-anak Surabaya kembali mengukir sejarah di kancah seni nasional. Lima seniman muda dari Kota Pahlawan berhasil menembus seleksi ketat Pameran Seni Nasional ArtEduCare#15 yang belum lama ini digelar di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta.
Keberhasilan ini menjadi buah bibir, mengingat mereka bersaing dengan seniman dewasa dari seluruh Indonesia dalam ajang tahunan yang diinisiasi oleh Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS).
Kelima siswa yang memukau juri dan pengunjung adalah Madeleine L Tongku, Michella J Tongku, Aisyah Azkadina A.A, Anindita Q Putri, dan Alesha K Putri.
Partisipasi mereka dalam pameran bergengsi ini menjadi bukti nyata bahwa bakat, dedikasi, dan idealisme dalam seni tidak mengenal batasan usia.
ArtEduCare#15 tahun ini mengusung tema Feel the Same, sebuah respons mendalam terhadap isu dehumanisasi yang kian terasa di era modern.
Tema ini mengajak publik untuk merenungkan kembali pentingnya empati dan koneksi emosional di tengah kemajuan teknologi yang seringkali menciptakan jarak antarindividu.
“Manusia hari ini saling terhubung lewat teknologi, tapi secara emosional justru makin terputus. Kami ingin mengajak publik merenung lewat karya seni,” ujar Ketua Panitia ArtEduCare#15, Andreas Rahmadana, Minggu (20/7).
Ia menegaskan, misi pameran untuk menjadikan seni sebagai medium refleksi dan dialog publik, mendorong masyarakat membangun kembali empati serta memperkuat relasi kemanusiaan.
Pameran ini dirancang dengan konsep abstract fluid, sebuah simbol perlawanan terhadap dehumanisasi yang merepresentasikan keberagaman dan dinamika kehidupan yang tetap menyatu dalam harmoni.
Pendiri Lotus Art Courses, Putu Mahendra, menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian luar biasa anak didiknya. Menurutnya pameran nasional yang konsisten diadakan dan memiliki reputasi tinggi.
"Meski mereka masih anak-anak, bisa lolos seleksi adalah sebuah prestasi luar biasa, terlebih karena mereka bersaing langsung dengan peserta dewasa,” ungkapnya.
Keberhasilan kelima siswa ini bukan hanya menunjukkan kualitas karya seni mereka, tetapi juga menjadi inspirasi bahwa seni memiliki kekuatan transformatif.
"Ini membuktikan bahwa melalui seni, kita dapat menumbuhkan empati dan membangun jembatan koneksi antarmanusia sejak usia dini, mengingatkan kita akan esensi kemanusiaan di tengah hiruk pikuk dunia digital," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari