RADAR SURABAYA – Media sosial (medsos) telah menjadi rujukan utama bagi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mencari informasi dan hiburan.
Fenomena ini juga merambah instansi dan perguruan tinggi yang kini memanfaatkan medsos sebagai sarana branding.
Oleh karena itu, pengelolaan medsos yang spesifik dan terarah menjadi sangat krusial.
Konten kreator sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Herma Retno Prabayanti, yang baru saja meraih gelar doktor, menekankan pentingnya manajemen media sosial yang efektif bagi perguruan tinggi.
"Perguruan tinggi butuh manajemen media sosial agar dikenal masyarakat dan informasi mudah diakses. Pengelolaan yang baik juga penting untuk mencegah hoaks," ujarnya, Jumat (18/7).
Dalam disertasinya yang berjudul "Pengembangan Model Manajemen Media Sosial untuk Meningkatkan Brand Image Unesa", Herma menemukan model manajemen media sosial Unesa yang dapat diimplementasikan di perguruan tinggi lain untuk meningkatkan peringkat dan dampak positif bagi mahasiswa.
Menurut Herma, pengelolaan medsos yang optimal di perguruan tinggi harus didukung oleh kebijakan rektor.
"Harus ada peraturan rektor agar pengelolaan medsos bisa efektif. Jika tidak ada aturan, tidak ada indikator yang jelas. Anggaran yang memadai juga krusial untuk pengelolaan medsos yang maksimal," jelasnya.
Ia menyoroti bahwa banyak perguruan tinggi saat ini masih mengelola medsos secara kurang profesional, bahkan cenderung asal viral.
"Banyak perguruan tinggi yang medsosnya dipegang oleh anak magang atau mahasiswa, bukan orang yang dilatih khusus. Ini karena manajemen media sosial belum menjadi isu sentral bagi pemangku kebijakan," ungkap Herma.
Padahal menurutnya, anak muda sekarang lebih sering menonton medsos daripada membaca buku.
Herma menegaskan bahwa pimpinan perguruan tinggi harus merangkul ranah digital untuk mengembangkan branding di media sosial. Ia juga menekankan pentingnya manajemen waktu dalam mengelola medsos.
"Manajemen waktu adalah bagian penting dari media sosial. Jika terlambat, kita akan kehilangan momen. Harus ada keseimbangan dan skala prioritas," katanya.
Bagi konten kreator baru, Herma memberikan beberapa tips dengan banyak riset, luangkan waktu minimal satu jam untuk membuka medsos, dan minimal setengah jam setiap dua hari sekali untuk mengecek akun lain di perangkat yang berbeda.
"Ini penting agar tahu algoritma FYP (For You Page) yang berbeda. Jika kita terus menggunakan HP yang sama, kita akan terjebak dalam algoritma ganda," ungkapnya.
Herma juga memberikan pesan penting untuk orang tua. Jangan memberikan akun medsos ke HP anak karena perilaku yang terekam akan memengaruhi anak.
Sementara itu, ia mengaku lega setelah berhasil mempertahankan disertasinya. Karena baginya teori dan praktik itu harus berimbang dalam pengelolaan menajemen medsos.
"Yang paling penting, saya ingin mengambil doktoral karena medsos jarang ada edukasinya, sementara saya juga konten kreator. Jika teori dan praktik digabungkan, hasilnya akan bagus. Orang pendidikan harus tahu medsos. Dengan cara ini, kita bisa mengetahui pengelolaan secara spesifik," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari