RADAR SURABAYA - Alergi makanan adalah reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu dalam makanan, terutama protein, yang dianggap sebagai ancaman.
Gejalanya bisa ringan seperti gatal dan ruam, hingga berat seperti sesak napas dan anafilaksis.
Menurut American College of Allergy, Asthma & Immunology, sekitar 90% kasus alergi makanan disebabkan oleh beberapa jenis makanan tertentu.
Mengenali makanan pemicu alergi sangat penting untuk mencegah risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak dan orang dengan riwayat alergi.
9 Makanan yang Paling Sering Menyebabkan Alergi
1. Susu Sapi
Mengandung protein kasein dan whey yang bisa memicu reaksi alergi, terutama pada bayi dan anak-anak. Gejalanya meliputi ruam, muntah, dan diare.
2. Telur
Protein albumin dalam putih telur sering menjadi pemicu alergi. Reaksi bisa berupa gatal, ruam, atau bahkan anafilaksis.
3. Kacang Tanah
Salah satu alergen paling serius. Bisa menyebabkan reaksi berat seperti pembengkakan, sesak napas, dan syok anafilaktik.
4. Kacang Pohon (Tree Nuts)
Termasuk almond, mete, kenari, dan pistachio. Alergi terhadap satu jenis kacang pohon bisa meningkatkan risiko terhadap jenis lainnya.
5. Makanan Laut (Seafood)
Termasuk ikan, udang, lobster, dan kerang. Protein tropomyosin dalam seafood sering memicu reaksi alergi berat.
6. Gandum
Protein seperti gluten dan gliadin dalam gandum bisa memicu alergi, terutama pada anak-anak. Gejalanya meliputi ruam, gatal, dan gangguan pencernaan.
7. Kedelai
Umumnya terjadi pada bayi, tapi bisa berlanjut hingga dewasa. Gejalanya ringan seperti ruam dan gatal, namun bisa memburuk jika ada alergi lain.
8. Buah Tertentu
Pisang, alpukat, dan kiwi bisa memicu sindrom alergi oral karena kemiripan protein dengan serbuk sari atau lateks.
9. Sayuran Nightshade
Tomat, terong, dan paprika mengandung alkaloid yang bisa memicu reaksi alergi pada sebagian orang.
Alergi makanan bisa berdampak serius jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat.
Sembilan jenis makanan di atas merupakan pemicu alergi paling umum yang perlu diwaspadai.
Penting untuk membaca label makanan, berkonsultasi dengan dokter, dan menghindari makanan pemicu jika memiliki riwayat alergi.
Dengan edukasi dan kewaspadaan, risiko alergi bisa diminimalkan dan kualitas hidup tetap terjaga. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari