Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pergeseran Standar Kecantikan: Kulit Putih Dianggap Cantik, Bisa Rusak Self Confidence Perempuan Berkulit Gelap

Nurista Purnamasari • Kamis, 17 Juli 2025 | 21:47 WIB
Kecantikan seharusnya tidak ditentukan oleh penamilan fisik dan warna kulit semata.
Kecantikan seharusnya tidak ditentukan oleh penamilan fisik dan warna kulit semata.

RADAR SURABAYA - Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, kulit putih telah lama dianggap sebagai simbol kecantikan. Standar ini begitu mengakar hingga banyak perempuan berkulit gelap merasa tidak cukup cantik, bahkan mengalami penurunan kepercayaan diri.

Padahal, kecantikan seharusnya tidak ditentukan oleh warna kulit semata. Banyak orang menilai kecantikan juga bukan hanya dari tampilan fisik.

Namun adanya standar tersebut cukup memberi dampak, baik social maupun ada yang memanfaatkannya secara ekonomi untuk menciptakan standar kecantikan harus berkulit putih.

Inilah asal-usul standar kecantikan kulit putih, bagaimana persepsi ini terbentuk, serta dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkannya bagi perempuan berkulit gelap.

Sejak Kapan dan Dari Mana Standar Cantik Kulit Putih Berkembang?

1. Warisan Kolonialisme
Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia, kulit putih diasosiasikan dengan kekuasaan, status sosial, dan kemewahan. Perempuan Indo-Eropa lebih mudah mendapat akses pendidikan, pekerjaan, dan dianggap lebih layak secara sosial.

2. Pengaruh Media dan Industri Kecantikan
Iklan sabun dan kosmetik sejak era 1920-an menampilkan perempuan berkulit putih sebagai simbol ideal. Produk pemutih kulit menjanjikan kesuksesan, cinta, dan penerimaan sosial, memperkuat narasi bahwa putih = cantik.

3. Budaya dan Mitos Lokal
Di beberapa budaya tradisional, kulit cerah dianggap sebagai tanda kemakmuran dan “terawat” karena tidak terkena matahari.

Bahaya Standar Cantik yang Mengidolakan Kulit Putih

1. Menurunkan Self Confidence
Perempuan berkulit gelap sering merasa tidak cukup cantik, mengalami rasa rendah diri, dan membandingkan diri secara negatif. Komentar seperti “kamu cantik kalau lebih putih” memperkuat stigma dan menyakiti mental.

2. Gangguan Kesehatan Mental
Tekanan sosial untuk tampil putih dapat memicu stres, kecemasan, bahkan depresi. Remaja perempuan yang terpapar standar ini lebih rentan mengalami gangguan makan dan citra tubuh negatif.

3. Penggunaan Produk Pemutih Berbahaya
Banyak perempuan menggunakan produk pemutih yang mengandung merkuri atau hidrokuinon demi memenuhi standar kecantikan. Efek sampingnya bisa berupa kerusakan kulit, gangguan ginjal, dan risiko kanker kulit.

4. Diskriminasi Sosial dan Profesional
Warna kulit memengaruhi peluang kerja, pemilihan pasangan, dan penerimaan sosial. Kulit putih dianggap lebih “layak tampil” di media dan iklan, menciptakan bias visual yang tidak adil.

Standar kecantikan yang mengidolakan kulit putih adalah konstruksi sosial yang lahir dari sejarah kolonial, budaya patriarki, dan pengaruh media.

Meski telah lama mengakar, standar ini terbukti merugikan secara psikologis dan sosial, terutama bagi perempuan berkulit gelap.

Kini saatnya kita meredefinisi cantik sebagai sesuatu yang inklusif, sehat, dan beragam.

Kecantikan bukan soal warna kulit, melainkan soal penerimaan diri dan rasa percaya diri yang tumbuh dari dalam. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#kulit putih #standar kecantikan #tampilan fisik #kulit gelap #Self confidence