Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tradisi Jamas Pusaka Masih Lestari di Kota Surabaya, Generasi Muda pun Antusias

Lambertus Hurek • Minggu, 29 Juni 2025 | 23:20 WIB
Abdali Anwar, warga Jalan Rembang, Surabaya, melaksanakan jamas pusaka pada awal bulan Suro. (IST)
Abdali Anwar, warga Jalan Rembang, Surabaya, melaksanakan jamas pusaka pada awal bulan Suro. (IST)

RADAR SURABAYA — Meski dikenal sebagai kota metropolitan yang modern dan dinamis, sebagian warga Surabaya masih teguh mempertahankan tradisi merawat benda-benda pusaka, terutama keris. Menjelang datangnya 1 Suro dalam penanggalan Jawa, tradisi jamas atau pembersihan pusaka kembali ramai dijalankan.

Abdali Anwar, warga Jalan Rembang, mengaku sejak awal bulan Suro sudah banyak masyarakat yang datang kepadanya untuk meminta jasa jamas pusaka. "Yang paling banyak tentu saja keris. Menjelang 1 Suro, sudah banyak yang datang minta supaya saya jamas pusaka mereka," ujarnya, Minggu (29/6).

Abdali bukan orang baru dalam dunia perawatan pusaka. Puluhan tahun ia mengabdikan diri untuk merawat dan membersihkan berbagai benda pusaka, seperti keris, tombak, dan pedang tradisional.

Ia menyebut, ada pelanggan yang datang khusus pada malam 1 Suro, namun ada juga yang datang sehari atau dua hari setelahnya. "Ada juga yang datang kapan saja, asal masih di bulan Suro," tambahnya.

Menurut Abdali, menjamas pusaka tidak sama dengan sekadar membersihkan pisau atau logam biasa. Prosesnya memerlukan perhatian khusus serta perlengkapan seperti bunga-bungaan dan bahan tradisional lainnya. "Tidak semua orang bisa melakukannya. Makanya mereka lebih memilih membawa pusaka ke saya," jelasnya.

Ia mengatakan, merawat pusaka umumnya tidak sulit selama benda tersebut rutin dijamas. Namun, kesulitan muncul saat harus menangani pusaka yang bertahun-tahun tidak dirawat. "Kondisinya sering kali sudah berkarat atau bahkan korosif. Itu butuh waktu dan kesabaran untuk melepas karatnya," katanya.

Yang menggembirakan, kata Abdali, saat ini semakin banyak anak muda yang tertarik untuk mengoleksi dan merawat pusaka. "Jadi, regenerasi budaya tetap jalan. Itu membuat saya senang sekaligus optimistis bahwa warisan leluhur kita akan terus terjaga," pungkasnya. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#jamas pusaka #tradisi jamasan pusaka bulan suro #jamas keris #tradisi suroan #tradisi jamasan pusaka #benda pusaka dicuci