Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengapa Bulan Suro Dianggap Wingit? Ini Alasannya

Nurista Purnamasari • Minggu, 29 Juni 2025 | 14:29 WIB
Ilustrasi bulan Suro.
Ilustrasi bulan Suro.

RADAR SURABAYA - Dalam kalender Jawa, bulan Suro merupakan bulan pertama yang bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah.

Meski secara umum dianggap sebagai bulan mulia, masyarakat Jawa justru menyematkan kesan mistis dan sakral pada bulan ini.

Banyak yang menghindari kegiatan besar seperti pernikahan, pindah rumah, atau bepergian jauh selama bulan Suro karena dianggap membawa energi negatif atau “wingit”.

Inilah alasan budaya dan spiritual mengapa bulan Suro dianggap wingit, serta bagaimana masyarakat Jawa menyikapinya.

Alasan Mengapa Bulan Suro Dianggap Wingit

1. Warisan Tradisi Mataram Islam
Kepercayaan terhadap keangkeran bulan Suro berasal dari masa Kerajaan Mataram Islam, ketika kalender Jawa diselaraskan dengan kalender Hijriah. Bulan Suro ditetapkan sebagai awal tahun Jawa dan diperingati dengan tirakat, bukan pesta.

2. Tabir Dunia Gaib yang Tipis
Dalam kepercayaan Kejawen, malam 1 Suro diyakini sebagai waktu ketika batas antara dunia nyata dan dunia gaib menjadi tipis. Aktivitas makhluk halus dan arwah leluhur dianggap meningkat, sehingga masyarakat menghindari kegiatan besar untuk menghindari “benturan energi”.

3. Pantangan Adat dan Pamali
Menikah, pindah rumah, atau menggelar hajatan besar di bulan Suro dianggap pamali. Masyarakat percaya bahwa melanggar pantangan ini bisa mendatangkan kualat atau nasib buruk bagi diri sendiri dan keturunan.

4. Simbol Keheningan dan Introspeksi
Berbeda dengan tahun baru Masehi yang dirayakan meriah, tahun baru Jawa diawali dengan keheningan dan perenungan. Tradisi seperti tapa bisu, larung pusaka, dan tirakat menjadi simbol pembersihan batin dan spiritual.

5. Energi Kosmis dan Kehati-hatian
Banyak orang Jawa percaya bahwa bulan Suro membawa energi kosmis yang kuat. Oleh karena itu, bulan ini dianggap bukan waktu yang tepat untuk “menantang nasib”, melainkan untuk menundukkan ego dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.

Bulan Suro bukan sekadar bagian dari sistem penanggalan Jawa, tetapi juga sarat makna spiritual dan budaya.

Anggapan bahwa bulan ini wingit mencerminkan kehati-hatian masyarakat Jawa dalam menjaga harmoni antara dunia nyata dan dunia tak kasatmata.

Meski sebagian kepercayaan bersifat mitologis, nilai-nilai seperti introspeksi, penghormatan terhadap leluhur, dan kesadaran spiritual tetap relevan hingga kini.

Memahami makna bulan Suro bukan hanya soal mistis, tapi juga soal kearifan lokal yang patut dihargai. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#jawa #Kerajaan Mataram Islam #kalender jawa #muharram #sakral #wingit #malam 1 suro #kalender hijriah #Tirakat #bulan Suro