RADAR SURABAYA - Ketidaksesuaian tanggal lahir pada dokumen resmi bukanlah hal yang jarang ditemukan.
Banyak orang memiliki tanggal lahir yang berbeda dari tanggal kelahiran sebenarnya, baik disengaja maupun tidak.
Manipulasi tanggal lahir sering terjadi karena adanya batasan usia dalam pendaftaran sekolah, melamar pekerjaan, atau menikah.
Orang tua kerap memanipulasi usia anak agar sesuai dengan persyaratan, memajukan atau memundurkan tanggal lahir sesuai kebutuhan.
Namun, masalah ini jauh lebih kompleks dari sekadar manipulasi.
Pakar Teknologi Pembelajaran, Prof. Dr. Riyanto, menyoroti permasalahan pencatatan kelahiran yang kurang akurat, terutama bagi mereka yang lahir sebelum tahun 1970-an.
Ia menyebut banyak orang zaman dulu tidak tercatat di kantor catatan sipil atau kelurahan/desa.
"Contohnya, tanggal lahir W.R. Soepratman saja memiliki dua versi: 9 Maret dan 19 Maret. Dahlan Iskan juga tidak tahu pasti tanggal lahirnya karena catatannya hilang saat almarinya dijual," ujarnya Jumat (27/6).
Prof. Riyanto sendiri telah menemukan solusi atas permasalahan ini melalui rumus weton.
Weton, perpaduan hari dan pasaran dalam kalender Jawa, menawarkan cara akurat untuk menentukan tanggal lahir.
"Weton memiliki siklus 35 hari (disebut selapan), dan weton yang sama akan berulang setiap selapan. Karena itu, rumus weton dapat membantu meningkatkan akurasi data," jelas Prof. Riyanto.
Ia mengungkapkan, rumus weton memanfaatkan siklus 35 hari ini.
Untuk mencari tanggal weton yang sama pada bulan berikutnya, gunakan rumus: Tb = S – Ba + Ta (Tb = tanggal berikutnya, S = selapan (35 hari), Ba = jumlah hari di bulan awal, Ta = tanggal awal).
Untuk bulan sebelumnya, gunakan rumus: Ts = Bs – S + Ta (Ts = tanggal sebelumnya, Bs = jumlah hari di bulan sebelumnya).
Sebagai contoh, jika seseorang lahir pada 3 Januari 2025 dengan weton Jumat Kliwon, maka pada tanggal 7 Februari 2025 juga Jumat Kliwon (35 – 31 + 3 = 7).
Namun, perlu diingat bahwa weton yang sama tidak selalu ada di bulan berikutnya atau sebelumnya, tergantung pada tanggal dan jumlah hari dalam bulan tersebut.
"Mudahnya, tanggal akan bertambah 7 untuk bulan awal berumur 28 hari, bertambah 5 jika bulan awal berumur 30 hari, dan bertambah 4 jika bulan awal berumur 31 hari," tutur dosen Prodi PGPAUD FKIP UNIB ini.
"Namun, weton yang sama tidak akan ditemukan di bulan berikutnya jika tanggal awal jatuh pada rentang tanggal tertentu di bulan tersebut. Misalnya, weton yang dipilih jatuh pada tanggal 25-28 di bulan yang berumur 28 hari, atau 27-31 di bulan yang berumur 31 hari," imbuhnya.
Lebih jauh lagi, rumus weton juga dapat membantu mengatasi keraguan akan tanggal dan bulan lahir.
"Dalam setahun, setiap bulan hanya memiliki satu weton untuk satu tanggal," kata Prof. Riyanto.
Jika mengingat bulan, tahun, dan weton, maka tanggal kelahiran dapat ditetapkan.
"Sebaliknya, jika kita ingat tanggal, tahun, dan weton, maka bulan kelahiran dapat ditetapkan," imbuhnya.
Prof. Riyanto menegaskan bahwa weton sering digunakan dalam upacara adat Jawa, sehingga mudah diingat oleh keluarga.
Jika ada perbedaan antara tanggal lahir dan weton, maka weton dapat dijadikan patokan yang lebih akurat.
"Rumus weton menawarkan solusi praktis dan akurat untuk mengatasi ketidaksesuaian data tanggal lahir, khususnya bagi mereka yang kesulitan menentukan tanggal lahir yang tepat," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari