RADAR SURABAYA - Suasana ruang pameran di Wisma Jerman tampak sedikit gelap. Namun dari balik kegelapan itu, 26 lukisan menyala terang dengan warna-warna mencolok, memikat siapa pun yang datang.
Itulah pameran tunggal bertajuk La Wet, karya pelukis asal Jawa Tengah, Daniel Kho, yang mengangkat tema lingkungan dalam balutan gaya seni khasnya Neo Pop Art dengan sentuhan cat fluorescent.
Pameran ini digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, hasil kolaborasi antara Daniel Kho dan Wisma Jerman Surabaya. Judul “La Wet” sendiri diambil dari bahasa Jawa, di mana kata Wet berarti pohon.
“Pohon itu paru-paru dunia. Kita hidup butuh pohon. Karena itu saya jadikan pohon sebagai simbol utama dalam karya-karya saya,” tutur Daniel saat ditemui di lokasi pameran, Selasa (24/6).
Setiap lukisan yang dipamerkan tidak hanya memberikan permainan warna yang meriah, tapi juga menyisipkan pesan kritis tentang kondisi lingkungan saat ini. Daniel bahkan terinspirasi dari pepatah suku Indian.
“Jika pohon terakhir kamu tebang, air terakhir kalian racuni, dan ikan terakhir kalian pancing, maka kalian akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan," jelasnya.
Melalui karya-karyanya, Daniel ingin menyadarkan masyarakat bahwa seni juga bisa menjadi media kampanye pelestarian lingkungan.
“Dalam berkesenian, kita harus konsisten dengan tema. Saya memilih lingkungan, dan saya ingin terus menyuarakannya lewat karya,” ujarnya.
Yang membuat pameran ini semakin unik adalah penggunaan cat fluorescent dalam setiap lukisannya. Cat ini mampu menyala dalam kegelapan, memberikan pengalaman visual berbeda bagi pengunjung.
“Saya ingin pengunjung happy saat melihat karya saya, makanya saya sebut ini happy art. Warna-warna norak ini justru jadi ciri khas saya. Tidak banyak pelukis di Indonesia yang memakai cat seperti ini,” jelasnya.
Perjalanan seni Daniel Kho sangat panjang, gemar melukis sejak kecil, dan telah meninggalkan Indonesia sejak tahun 1975 serta sempat menetap di berbagai negara.
Ia juga pernah mendapatkan beasiswa dari Jacob Eschweiler Art Foundation di Jerman, tempat ia memperdalam seni lukis. Bahkan, 18 tahun lalu, ia pernah diundang dalam konferensi lingkungan dan seni di Guatemala.
“Waktu itu, peserta dari Eropa dan Amerika menuduh negara Asia seperti kita yang menebangi hutan. Padahal mereka yang lebih dulu menghabiskan hutan mereka sendiri. Itu jadi salah satu momen yang menguatkan saya untuk terus bersuara lewat seni,” kenang Daniel.
Pameran La Wet ini merupakan hasil persiapan selama tujuh bulan. Sebuah proses panjang yang mencerminkan dedikasi Daniel terhadap lingkungan dan dunia seni. (sam/vga)
Editor : Vega Dwi Arista