RADAR SURABAYA - Malam 1 Suro dan bulan Suro merupakan momen penting dalam budaya Jawa yang sarat dengan nilai spiritual, tradisi leluhur, dan mitos yang masih hidup hingga kini.
Bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah, malam ini menandai pergantian tahun baru Jawa dan Islam.
Namun, bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro bukan sekadar perayaan, melainkan waktu untuk menyepi, merenung, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Makna dan Asal Usul Malam 1 Suro
Istilah "Suro" berasal dari kata Arab "Asyura", yang berarti sepuluh, merujuk pada tanggal 10 Muharram.
Dalam budaya Jawa, malam 1 Suro dianggap sebagai malam keramat yang membuka gerbang antara dunia nyata dan dunia gaib.
Sejak masa Sultan Agung dari Mataram, penanggalan Jawa diselaraskan dengan kalender Hijriah, menjadikan 1 Suro sebagai awal tahun Jawa.
Tradisi dan Ritual Malam 1 Suro
Beberapa tradisi khas yang dilakukan masyarakat Jawa antara lain:
• Tirakatan dan Semedi: Malam digunakan untuk berdoa, menyepi, dan merenungi perjalanan hidup.
• Kirab Pusaka: Diadakan di Keraton Surakarta dan Yogyakarta, menampilkan benda-benda pusaka seperti keris dan tombak.
• Siraman atau Kungkum: Mandi dengan air bunga di tempat keramat sebagai simbol pensucian diri.
• Tapa Bisu: Ritual berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa berbicara, sebagai bentuk pengendalian diri.
• Ziarah Makam Leluhur: Mengunjungi makam tokoh-tokoh penting sebagai bentuk penghormatan.
Larangan dan Mitos di Bulan Suro
Bulan Suro juga dikenal dengan berbagai pantangan, seperti:
• Tidak menikah atau menggelar hajatan besar, karena diyakini bisa mendatangkan kesialan atau “kualat”.
• Tidak bepergian jauh atau pindah rumah, karena dipercaya sebagai waktu rawan secara spiritual.
• Menghindari keramaian dan pesta, karena bulan ini lebih cocok untuk kontemplasi dan laku batin.
Namun, di lingkungan bangsawan seperti Keraton Surakarta, justru bulan Suro dianggap waktu yang baik untuk pernikahan, menunjukkan adanya perbedaan tafsir budaya.
Malam 1 Suro dan bulan Suro bukan sekadar bagian dari kalender Jawa, melainkan warisan budaya yang kaya akan makna spiritual dan filosofi hidup.
Tradisi yang dijalankan mencerminkan nilai introspeksi, penghormatan terhadap leluhur, dan upaya menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Di tengah modernitas, pelestarian nilai-nilai ini menjadi penting agar generasi mendatang tetap terhubung dengan akar budayanya. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari