Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Stylish dengan Tren Tas Etnik Modern Bersentuhan Kreatif Khas Surabaya

Andy Satria • Rabu, 4 Juni 2025 | 14:18 WIB

 

KARYA PERAJIN LOKAL: Penggemar tas etnik ketika menunjukkan pouch bag berbahan kulit yang dipadukan dengan kain batik koleksi Etnapraya, di Surabaya, Selasa (3/6). 
KARYA PERAJIN LOKAL: Penggemar tas etnik ketika menunjukkan pouch bag berbahan kulit yang dipadukan dengan kain batik koleksi Etnapraya, di Surabaya, Selasa (3/6). 

RADAR SURABAYA - Tren dunia fesyen terus mengalami perubahan, tak terkecuali dalam urusan tas. Kini, tas tak lagi harus senada dengan baju atau sepatu. Justru, semakin unik dan sesuai karakter pengguna, semakin dicari.

Hal itu pula yang menjadi dasar lahirnya Etnapraya, brand tas etnik asal Surabaya yang memadukan unsur tradisional dengan sentuhan modern nan eksklusif.

Etty Soraya selaku owner Etnapraya yang juga praktisi public relation, serta pengajar di bidang industri kreatif ini mengatakan bahwa awalnya ia memiliki kegemaran berburu suvenir ketika travelling ke berbagai kota.

“Awalnya saya suka travelling, dan tiap berkunjung ke kota lain, selain mencari kuliner, tetapi juga mencari beberapa suvenir. Terutama pouch bag,” ucap Etty ketika ditemui, Selasa (3/6). 

Ya, dari kecintaannya terhadap pouch bag atau tas jinjing ini, muncul ide bisnis.

Bahkan, ketika masih bekerja sebagai Marketing Communication di Hotel Sheraton Surabaya, Etty sudah menjadikan pouch sebagai merchandise untuk tamu loyal dan klien hotel.

Setelah kontraknya di sebuah brand besar berakhir usai pandemi, Etty memutuskan untuk melangkah sendiri. 

Nama Etnapraya sebenarnya sudah dipersiapkan oleh sang ibu sejak Etty masih aktif bekerja di hotel.

“Ini bentuk pengaplikasian ilmu saya di industri kreatif. Produksinya pun semua masih di Surabaya,” jelasnya.

Ia membuat tas dengan material kulit premium yang dipadukan dengan grafir batik modern.

Tak hanya itu, ia juga menggandeng perajin batik dari Batik Wistara, dimana para perajinnya adalah penyandang disabilitas.

“Kami ingin bukan hanya menjual produk, tapi juga menyisipkan nilai yang juga ada cerita dibaliknya,” jelas Etty. 

Selain dari segi sosial, Etnapraya juga melibatkan mahasiswa dalam proses desain pattern agar tetap relevan dengan tren generasi muda.

Untuk pasar, Etnapraya membidik perempuan usia 30 hingga 50 tahun. Meski demikian, ada juga koleksi tas pria yang tak kalah stylish.

Dengan harga mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 5 juta, tas-tas ini menyasar segmen menengah atas yang menghargai keunikan dan kualitas. (sam/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#tas etnik #surabaya #Perajin #batik wistara #tren tas #industri kreatif