Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Gawat! Konten Italian Brainrot Bisa Ganggu Perkembangan Kognitif Anak

Rahmat Sudrajat • Selasa, 3 Juni 2025 | 15:52 WIB

 

Ilustrasi anak-anak dan gambar Italian Brainrot.
Ilustrasi anak-anak dan gambar Italian Brainrot.

RADAR SURABAYA - Konten "Italian Brairot" atau meme anomali yang tengah viral di media sosial menimbulkan kekhawatiran.

Meme anomali, yang menggabungkan hewan dengan benda mati, hewan dengan manusia, atau manusia dengan benda mati (misalnya, tung tung tung sahur dan ballerina capuccina), mudah diakses anak-anak dan berpotensi mengganggu perkembangan mereka. 

Menurut Psikolog Nur Ainy Fardana Nawangsari, dampak negatif konten digital yang tidak bermakna dan berkualitas rendah. 

"Konten seperti ini tidak mendidik, tetapi banyak diakses anak-anak," ujarnya, Senin (2/6).

Ainy memaparkan alasan ketertarikan anak pada konten anomali.  ]Karena masa kanak-kanak adalah tahapan pengembangan imajinasi.

Anak tertarik pada hal-hal menarik secara visual karena sesuai dengan kebutuhan mereka untuk mengembangkan imajinasi, kemampuan visual, dan rasa ingin tahu.

"Anak memang sedang mengembangkan imajinasi, tetapi mereka perlu belajar hal-hal konkret operasional untuk memahami dunia nyata. Konten yang tidak mendidik akan mengganggu proses pemahaman dan kognitifnya," terangnya.

Lebih lanjut ia memaparkan, berbeda dengan kartun, konten anomali sering muncul di media sosial, sehingga anak dapat mengonsumsinya secara intensif.

Bentuknya yang aneh dan tidak realistis justru berdampak negatif pada perkembangan psikologis, kognitif, dan sosial anak.

"Konten anomali dapat mengganggu proses pemahaman realita. Anak tidak berkembang dalam berpikir realistis dan kemampuan penalarannya terhambat," ujarnya.

Secara psikologis, paparan konten anomali secara intensif dapat menyebabkan kecanduan, gangguan fokus, daya ingat terganggu, gangguan tidur, mata lelah, nyeri leher, dan berkurangnya interaksi sosial.

Neny merekomendasikan orang tua untuk membatasi screen time anak, mendampingi mereka memilih konten berkualitas, dan memberikan pemahaman tentang konten yang baik.

"Berikan anak banyak waktu untuk berinteraksi di dunia nyata dan membangun relasi sosial," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#anomali #psikolog #perkembangan anak #Perkembangan kognitif anak #Italian Brainrot #tung tung tung sahur