Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengenal Postpartum Depression, Lebih Lama dan Berbahaya Ketimbang Baby Blues

Nurista Purnamasari • Rabu, 28 Mei 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi postpartum depression.
Ilustrasi postpartum depression.

RADAR SURABAYA - Postpartum depression (PPD) adalah gangguan mental yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Kondisi ini lebih dari sekadar baby blues, karena dapat berlangsung lebih lama dan memiliki dampak yang lebih serius terhadap kesejahteraan ibu maupun perkembangan bayi.

Banyak ibu tidak menyadari bahwa mereka mengalami PPD atau merasa enggan mencari bantuan karena stigma yang melekat.

Memahami gejala, faktor risiko, dan cara menanganinya adalah langkah penting dalam mendukung ibu yang mengalami kondisi ini.

Apa Itu Postpartum Depression?

Postpartum depression adalah gangguan suasana hati yang terjadi setelah melahirkan.

Berbeda dengan baby blues yang biasanya berlangsung beberapa hari, PPD dapat bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dan membutuhkan penanganan khusus.

Gejala Postpartum Depression

Gejala PPD bisa bervariasi, tetapi beberapa yang umum terjadi antara lain:
• Perasaan sedih yang mendalam dan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.
• Mudah merasa lelah, bahkan setelah cukup istirahat.
• Kesulitan menjalin hubungan dengan bayi, merasa kurang terikat atau tidak peduli.
• Perubahan nafsu makan, baik peningkatan maupun penurunan drastis.
• Gangguan tidur, seperti insomnia atau tidur berlebihan.
• Merasa tidak berharga, bersalah, atau tidak mampu menjadi ibu yang baik.
• Kecemasan berlebihan, termasuk rasa takut yang ekstrem terhadap keselamatan bayi.
• Pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi (memerlukan bantuan segera).

Siapa yang Berpotensi Mengalami Postpartum Depression?

Beberapa faktor meningkatkan risiko ibu mengalami PPD, di antaranya:
• Riwayat depresi atau gangguan kecemasan sebelum atau selama kehamilan.
• Kurangnya dukungan dari pasangan, keluarga, atau lingkungan sekitar.
• Persalinan yang sulit atau traumatis, termasuk komplikasi medis.
• Perubahan hormon yang drastis setelah melahirkan.
• Masalah finansial atau tekanan hidup, termasuk tuntutan pekerjaan.
• Bayi dengan kondisi khusus, seperti prematur atau kebutuhan medis kompleks.

Cara Menangani Postpartum Depression

PPD dapat ditangani melalui berbagai cara, tergantung tingkat keparahannya. Berikut beberapa langkah yang dapat membantu:

1. Mencari Dukungan Emosional
Bicara dengan pasangan, keluarga, atau teman dekat tentang apa yang dirasakan. Dukungan sosial sangat penting dalam masa pemulihan.

2. Konsultasi dengan Profesional
Jika gejala memburuk atau berlangsung lama, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater adalah langkah yang tepat. Terapi kognitif atau obat antidepresan bisa menjadi opsi.

3. Menjaga Pola Hidup Sehat
Pastikan tubuh mendapatkan nutrisi yang cukup, tidur yang berkualitas, serta olahraga ringan yang bisa membantu memperbaiki suasana hati.

4. Mengelola Stres dengan Aktivitas Positif
Melakukan kegiatan yang disukai, seperti membaca, meditasi, atau berjalan-jalan, bisa membantu mengurangi tekanan emosional.

5. Membangun Ikatan dengan Bayi
Meskipun sulit, mencoba melakukan kontak kulit ke kulit, menggendong, atau berbicara dengan bayi dapat membantu memperkuat hubungan dan meringankan gejala PPD.

Postpartum depression adalah kondisi serius yang bisa memengaruhi ibu baru setelah melahirkan.

Memahami gejalanya serta faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan mengalami PPD adalah langkah pertama dalam menghadapinya.

Dukungan emosional, konsultasi profesional, serta pola hidup sehat menjadi kunci dalam mengatasi kondisi ini.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, PPD dapat berdampak pada kesejahteraan ibu dan perkembangan bayi, sehingga penting untuk mencari bantuan sesegera mungkin. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#ibu melahirkan #psikologis #Postpartum Depression #baby blues #kesehatan mental #kesehatan #perkembangan bayi