RADAR SURABAYA - Tantangan kesehatan global dalam beberapa tahun terakhir didominasi oleh perkembangan virus, khususnya Hepatitis B dan SARS-CoV-2.
Mutasi genetik pada virus-virus ini menjadi perhatian serius para akademisi dan praktisi medis.
Perubahan genetik ini menghasilkan varian baru yang lebih mudah menular, lebih resisten terhadap pengobatan, dan bahkan mampu mengakali vaksin yang ada.
Prof. Dr. Juniastuti, M.Kes, SpMK, pakar virologi (hepatitis virus), menjelaskan bahwa virus Hepatitis B (VHB) kini memiliki sepuluh genotipe dan 40 sub-genotipe yang tersebar di seluruh dunia.
"Setiap jenis memiliki karakteristik berbeda," ujarnya, Minggu (25/5).
Mutasi tertentu, seperti A1762T/G1764A dan G1896A, meningkatkan agresivitas virus, menyebabkan kerusakan hati yang lebih parah, hingga sirosis dan kanker hati.
Lebih jauh lagi, beberapa mutasi membuat virus kebal terhadap obat antivirus.
"Mutasi pada bagian YMDD, misalnya, menyebabkan resistensi terhadap lamivudin, salah satu terapi standar untuk Hepatitis B," terang Prof. Juniastuti.
Pandemi Covid-19, disebabkan oleh SARS-CoV-2, menjadi bukti nyata dampak luas mutasi virus.
Dalam waktu singkat, varian Alpha, Beta, Delta, dan Omicron telah muncul.
"Varian Omicron jauh lebih mudah menular daripada Delta, meskipun gejalanya cenderung lebih ringan," ujar Gubes Fakultas Kedokteran (FK) Unair ini.
Ironisnya, mutasi ini juga mengurangi efektivitas alat tes dan vaksin yang sebelumnya efektif.
"Vaksin booster belum cukup kuat melawan subvarian Omicron terbaru. Oleh karena itu, ilmuwan sedang mengembangkan vaksin generasi baru yang lebih sesuai dengan varian yang beredar," imbuhnya.
Oleh karena itu, deteksi dini varian virus menjadi krusial dalam penanganan penyakit menular.
Dukungan pemerintah dan pemangku kebijakan sangat dibutuhkan, mengingat pemeriksaan molekuler untuk deteksi varian cenderung mahal, terutama untuk penyakit yang sedang mewabah atau berpotensi pandemi.
Langkah ini tidak hanya menyelamatkan individu, tetapi juga melindungi masyarakat luas.
"Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, kita bisa menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, serta berkontribusi pada pencapaian target kesehatan global tahun 2030," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari