RADAR SURABAYA - Ada yang unik dari cara mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Surabaya (Ubaya) dalam memperingati Hari Teh Internasional tahun ini.
Mereka tidak hanya menikmati secangkir teh, tetapi juga menyulap kantong teh celup bekas menjadi karya seni lukis yang estetik dan penuh makna.
Sebanyak 38 mahasiswa DKV dari berbagai angkatan mengikuti kegiatan ini, yang dilaksanakan di lingkungan kampus.
Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa melukis menggunakan media yang tidak biasa, yakni kantong teh celup bekas yang sudah diseduh.
Kegiatan ini mengangkat tema keberlanjutan lingkungan. Ampas teh dari kantong teh bekas dimanfaatkan sebagai pupuk, sementara kantongnya dikeringkan dan digunakan sebagai media lukis.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah teh bisa dimanfaatkan kembali, sekaligus memperingati International Tea Day dengan cara yang berbeda,” ujar Kepala Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Ubaya, Hedi Amelia Bella Cintya, M.Ds., Rabu (21/5).
Kampus Ubaya menyediakan kantong teh bekas yang telah dikumpulkan dari lingkungan kampus.
Setelah disortir, kantong teh yang masih layak digunakan dibagikan ke mahasiswa untuk dilukis.
Setiap mahasiswa diminta membuat tiga hingga empat karya dengan tema negara penghasil teh, yakni Indonesia, India, Tiongkok, dan Inggris.
Dalam prosesnya, mahasiswa menggunakan cat akrilik dan cat air, dengan teknik white draw paint yang menekankan penggunaan cat lebih padat agar tidak tembus di media tipis seperti kantong teh.
“Kalau pakai cat yang terlalu cair, warnanya bisa rembes dan merusak hasil lukisan. Jadi kita arahkan untuk pakai akrilik atau cat air yang dilapisi dulu,” kata Hedi.
Kaylee, salah satu mahasiswa peserta dalam kegiatan tersebut mengaku ini adalah pengalaman pertamanya melukis di atas kantong teh.
“Seru sih, cuma tantangannya di kuas. Kalau ukurannya enggak pas, jadi susah. Tapi karena medianya kecil, enggak perlu terlalu detail juga,” katanya.
Liora, mahasiswa asal Surabaya, juga mengungkapkan tantangan saat melukis di media bertekstur ini.
“Karena kantong teh suka berkerut, bikin garis jadi agak susah. Tapi setelah tahu triknya, malah jadi tertantang. Aku kebagian negara Tiongkok, dan butuh waktu sekitar satu jam untuk menyelesaikan satu lukisan,” ujarnya. (sam/nur)
Editor : Nurista Purnamasari