Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sejarah dan Perkembangan Kenduren, Dari Tradisi hingga Jadi Media Dakwah

Nurista Purnamasari • Senin, 19 Mei 2025 | 01:40 WIB
Ilustrasi kenduren.
Ilustrasi kenduren.

 

RADAR SURABAYA - Kenduren, atau yang sering disebut kenduri, adalah tradisi masyarakat Jawa yang berakar dalam budaya dan kepercayaan lokal.

Acara ini biasanya dilakukan sebagai bentuk syukur, doa, atau perayaan atas berbagai momen penting dalam kehidupan, seperti kelahiran, pernikahan, panen, hingga kematian.

Seiring berjalannya waktu, kenduren mengalami berbagai perubahan dan adaptasi sesuai dengan perkembangan zaman.

Sejarah Kenduren

Tradisi kenduren telah ada sejak zaman dahulu kala dan erat kaitannya dengan adat serta kepercayaan masyarakat Jawa.

Awalnya, kenduren dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan sebagai cara untuk memohon berkah kepada Tuhan.

Pada masa penyebaran Islam di Jawa, Walisongo menggunakan kenduren sebagai media dakwah untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat.

Tradisi ini kemudian berkembang dengan tambahan unsur doa bersama dan pembacaan ayat-ayat suci.

Perkembangan Kenduren

Seiring dengan modernisasi, kenduren mengalami berbagai perubahan dalam pelaksanaannya. Beberapa bentuk kenduren yang masih dilakukan hingga kini antara lain:

1. Kenduren Selapanan – Dilakukan setelah bayi berusia 35 hari sebagai bentuk syukur dan doa keselamatan.

2. Kenduren Wetonan – Merayakan hari kelahiran seseorang berdasarkan penanggalan Jawa.

3. Kenduren Mitoni – Perayaan kehamilan saat memasuki usia tujuh bulan.

4. Kenduren Kematian – Dilaksanakan untuk mendoakan orang yang telah meninggal.

5. Kenduren Syukuran – Bentuk kenduren yang dilakukan untuk merayakan keberhasilan atau peristiwa penting dalam kehidupan.

Meskipun bentuknya telah mengalami modifikasi sesuai perkembangan zaman, nilai spiritual dan sosial dalam kenduren tetap dipertahankan.

Tradisi ini masih menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga dan menjaga keharmonisan dalam masyarakat.

Kenduren adalah tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad dan terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Dari bentuk penghormatan kepada leluhur hingga menjadi bagian dari dakwah Islam, kenduren tetap memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Jawa.

Dengan mempertahankan nilai-nilai kebersamaan dan rasa syukur, kenduren tetap relevan sebagai bagian dari budaya yang mempererat hubungan antarindividu dan komunitas. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#walisongo #jawa #media dakwah #tradisi #KenDuren #Kenduri #islam