RADAR SURABAYA - Penyakit gigi berlubang, yang disebabkan oleh penumpukan sisa makanan dan berubah menjadi asam, menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai.
Menurut Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Jawa Timur, drg. Sumartono mengatakan, karies ini mengeroposkan lapisan email gigi hingga membentuk lubang, bahkan sampai ke lapisan dentin.
"Baru saat itulah banyak orang merasakan sakit gigi," jelas drg. Sumartono, Kamis (15/5).
Lebih baiknya masyarakat segera memeriksakan diri ke dokter gigi ketika merasakan ngilu pada gigi akibat rangsangan dingin. "Seringkali masyarakat datang hanya ketika sudah sakit parah," imbaunya.
Hal ini juga banyak dialami anak-anak, mengingat banyaknya konsumsi makanan dan minuman manis yang lengket di gigi.
"Jarang sekali anak usia 4-5 tahun giginya masih utuh. Rata-rata sudah berlubang karena makanan zaman sekarang sangat memicu karies," jelasnya.
Untuk mengatasi masalah ini, edukasi kesehatan gigi dan mulut terus digencarkan. Pihaknya telah mengadakan edukasi, namun butuh waktu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Kotoran makanan tidak langsung melubangi gigi, butuh proses. Menyikat gigi pagi dan sore sudah cukup untuk mencegahnya.
Namun, penting untuk menjaga kebersihan gigi secara konsisten. "Jika tidak menyikat gigi malam hari dan makan hingga pagi, kotoran akan menempel dan bakteri akan menyebabkan pengeroposan," ujarnya.
Edukasi yang diberikan menekankan pentingnya menyikat gigi secara rutin. Walaupun faktor genetik juga berperan, karena ada yang giginya mudah keropos dan ada yang awet.
Perilaku masyarakat terhadap kesehatan gigi perlu ditingkatkan. Kebanyakan pasien datang saat sudah sakit parah, membutuhkan perawatan khusus.
"Untungnya sekarang Puskesmas juga membantu pasien penyakit gigi," imbuhnya.
Sebagai upaya sosialisasi dan edukasi, layanan gigi gratis disediakan. "Kami menyediakan pelayanan gigi gratis yang mobile di Surabaya, menggunakan bus keliling. Kerja sama dengan Ciptadent, layanan ini beroperasi setiap hari," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari