RADAR SURABAYA - Tradisi bernuansa damai dan penuh makna kembali hadir di tengah masyarakat Surabaya.
Dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak, para biksu dan shamanera menggelar pindapata, yakni tradisi penerimaan dana makanan yang berlangsung cukup unik, yaitu di dalam pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza Surabaya.
Sebanyak enam biksu dari berbagai negara, yakni Nepal, India, dan Indonesia, tampak berjalan perlahan menyusuri mal dengan membawa mangkuk sedekah.
Mereka tidak meminta, berjalan menghampiri para umat yang sudah bersiap dengan membawa berbagai macam makanan yang disediakan untuk berbagi sebagai bentuk dukungan.
Shamanera Badhra Sushila, salah satu calon biksu yang turut serta dalam kegiatan ini, menjelaskan bahwa pindapata bukan hanya tradisi, tetapi juga wujud hubungan saling bergantung antara biksu dan umat.
“Pindapata ini merupakan satu tradisi di dalam agama Buddha. Kami para biksu, samanera, dan pertapa memiliki hubungan timbal balik dengan umat. Kami memenuhi kebutuhan spiritual mereka, dan mereka memenuhi kebutuhan fisik kami,” ujar Badhra Sushila saat ditemui setelah acara, Kamis (8/5).
Menurutnya, meskipun kini banyak wihara memiliki dapur dan koki sendiri, tradisi pindapata tetap dipertahankan agar umat memiliki kesempatan menyerahkan makanan langsung.
“Ini juga melatih kerendahan hati bagi kami. Menerima makanan dari umat membuat kami sadar, bahwa hidup kami bergantung pada kebaikan mereka,” lanjutnya.
Ia menambahkan, secara tradisional pindapata dilakukan setiap pagi, di mana para biksu berjalan dari hutan tempat mereka bertapa menuju desa-desa sekitar.
Michael Agung Christanto, Wakil Ketua Panitia Vesak Festival 2025, mengatakan bahwa tahun ini tema yang diusung adalah Light of Compassion: Guiding the Next Generation.
Tak hanya pindapata, rangkaian Waisak di Surabaya juga diisi dengan diorama dan pameran edukatif.
“Tahun ini, rupang utama yang kami tampilkan adalah momen saat Buddha naik ke Surga Tavatimsa dan mengajarkan kepada ibunya, Ratu Maya. Tingginya mencapai 8 meter,” ujar Michael.
Menariknya, pemilihan tema ini juga disesuaikan dengan perayaan Hari Ibu di beberapa negara yang bertepatan dengan Waisak.
Ia juga mengungkapkan bahwa acara pindapata di mal akan berlangsung hingga 10 Mei 2025, dan mendapat respons sangat positif dari masyarakat lintas mazhab.
Siska, warga Surabaya yang ikut dalam pindapata, mengaku sangat senang bisa berpartisipasi.
Ia datang khusus untuk membawa makanan ringan bagi para biksu.
“Rasanya puas dan lega bisa berbagi, apalagi ini pertama kali saya ikut acara seperti ini di dalam mal,” tuturnya.
Ia mengaku mengetahui acara ini dari media sosial dan merasa lebih nyaman karena akses di mal lebih mudah dibandingkan wihara.
“Kalau di wihara, kadang parkir susah. Di mal ini jadi lebih santai, bisa sambil jalan-jalan juga. Apalagi tidak semua daerah di Surabaya punya wihara yang dekat,” pungkasnya. (sam/nur)
Editor : Nurista Purnamasari