Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Penari Disabilitas Sanggar Mulyo Joyo Enterprise Meriahkan Hari Autis Sedunia di Surabaya

Lambertus Hurek • Jumat, 25 April 2025 | 22:20 WIB
Para penari dari Sanggar Mulyo Joyo Enterprise Surabaya seusai menampilkan Tari Silih Asih. (IST)
Para penari dari Sanggar Mulyo Joyo Enterprise Surabaya seusai menampilkan Tari Silih Asih. (IST)

RADAR SURABAYA - Siang itu, Tunjungan Plaza Surabaya mendadak sunyi. Semua mata tertuju ke panggung kecil di Atrium UG. Bukan karena ada selebritas. Bukan juga karena lampu sorot yang terlalu menyilaukan.

Tapi karena sepuluh anak menari. Pelan, pasti. Sambil membawa payung warna-warni. Wajah mereka penuh kesungguhan. Langkahnya pelan, sesekali ragu. Tapi tak ada yang mundur.

Itulah Tari Silih Asih. Karya Sri Mulyani, S.Sn., M.Sos., dosen Program Studi Seni Tari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Tarian yang tampak sederhana, tapi menyimpan makna yang tidak sederhana: melindungi, berbagi, dan tidak menyerah meski hidup sedang tidak ramah.

Sri Mulyani menyelipkan filosofi itu lewat payung. Katanya, payung bukan sekadar properti. Tapi simbol: bahwa kita bisa jadi pelindung bagi sesama, meski kadang diri sendiri juga masih kepayahan. Bahwa hidup yang berat itu tidak untuk dihindari, tapi dihadapi. Dengan sabar. Dan syukur.

Yang menari bukan penari biasa. Mereka anak-anak istimewa. Penari dari Disability Class Pusat Olah Seni Budaya Mulyo Joyo Enterprise Surabaya. Inilah nama para penari berbakat itu:

Abhinaya Zaidan, Kalindah Ayu Listia Assuhra, Novian Eko Satrio, Nuzulis Sakinah Faizun, Rahmad Budiana, Muhammat Tamam Romadhon, Rachmad Ryanda Putra Harianto, Rizky Gusti Preyambodo, Tis'atul Mukarroma, dan Khansa Nazhirah.

"Latihan mereka tidak seperti anak-anak biasa," ujar Inggar Belzky Tosabila, salah satu asisten pelatih.

"Kami harus sabar, pelan-pelan. Tapi justru itu yang bikin kami belajar: bahwa semua orang punya cara masing-masing untuk bersinar."

Selain Inggar, para pelatih lainnya yang turut mendampingi latihan adalah Silvina Cahya Agita dan Melza Nur Ramadania. Sementara penata rias dan busana dipercayakan kepada Lilis Lestari, S.Sn., M.Pd., dosen STKW Surabaya.

Acara ini memang bukan pertunjukan seni biasa. Diselenggarakan oleh Autism Awareness Indonesia (AAI) DPD Jawa Timur, rangkaian kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Autisme Sedunia dan Hari Kartini. Slogan yang diangkat sederhana tapi pas: “Menghargai Keberagaman, Membangun Dunia Inklusif.”

Ketua AAI Jatim, Vivin Komalia, hadir langsung. Bersama Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Dra. Restu Novi Widiani. Mereka menyerahkan bantuan sembako secara simbolik kepada anak-anak istimewa.

Sekitar 200 anak berkebutuhan khusus hadir. Ramai. Riuh. Tapi semuanya merasa nyaman. Merasa diterima.

Dan payung-payung kecil itu, entah sejak kapan, berubah jadi simbol besar. Bahwa dunia yang inklusif bukan mimpi. Asal kita mau sedikit lebih sabar, lebih peka, dan lebih silih asih. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#hari kartini #anak autis #sri mulyani koreografer #Sanggar Tari Mulyo Joyo Enterprise #anak berkebutuhan khusus #hari autis sedunia