Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Maraknya Kasus Bundir pada Mahasiswa, Gara-Gara Kurang Dukungan Emosional?

Rahmat Sudrajat • Sabtu, 19 April 2025 | 03:26 WIB
Beberapa waktu belakangan kasus pengakhiran nyawa di kalangan mahasiswa terjadi, kondisi psikologis dan kurangnya dukungan emosional diperkirakan menjadi penyebabnya.
Beberapa waktu belakangan kasus pengakhiran nyawa di kalangan mahasiswa terjadi, kondisi psikologis dan kurangnya dukungan emosional diperkirakan menjadi penyebabnya.

RADAR SURABAYA - Beberapa waktu belakangan ini tren angka bunuh diri (bundir) di kalangan mahasiswa mengalami peningkatan.

Belum satu bulan kejadian mahasiswa bunuh diri sudah dua kali terjadi. Seperti di Sidoarjo dan yang terbaru Rabu lalu di Jalan Gubeng Kertajaya, Surabaya.

Menurut psikolog sosial, Ananta Yudiarso, depresi dan cemas lebih cepat dialami oleh kalangan anak muda atau usia mahasiswa.

Sehingga mereka lebih mungkin mengalami depresi yang tidak terdeteksi atau kurang terkelola dengan baik.

Hal inilah yang menjadi alasan utama tingginya angka bunuh diri di kalangan Gen Z.

Selain itu, kurangnya keterampilan dalam mengelola stres dan emosi negatif dapat membuat Gen Z lebih mudah merasa kewalahan oleh masalah-masalah yang mereka hadapi.

Dalam beberapa kasus, mereka mungkin melihat bunuh diri sebagai solusi terakhir untuk mengakhiri penderitaan emosional mereka.

"Masa muda sering kali adalah periode eksplorasi identitas, tetapi di era yang begitu cepat berubah, banyak dari mereka merasa terlalu terombang-ambing dalam membangun identitas diri yang stabil, yang dapat meningkatkan risiko krisis identitas dan perasaan keputusasaan," kata Ananta, Jumat (18/4).

Ananta juga menyebut puncak tertinggi usia bunuh diri di Indonesia terbanyak usia 26-30 tahun.

Sedangkan usia tersebut mencakup mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 sehingga tahun 2024 usia mereka berkisar antara 12-27 tahun.

"Jadi usia tersebut masa rentan usia bunuh diri," ujar dosen psikologi Universitas Surabaya (UBAYA) ini.

Faktor lain yang turut berperan adalah kurangnya dukungan emosional dalam keluarga. 

Gen Z yang tumbuh di lingkungan tanpa dukungan atau bahkan mengabaikan isu kesehatan mental, cenderung merasa kesepian dan kesulitan berbagi masalah. 

"Meskipun lebih terbuka tentang kesehatan mental, tidak semua Gen Z memiliki akses pada terapi, konseling, atau layanan kesehatan mental lainnya, terutama di wilayah yang sumber daya kesehatannya terbatas," terang Ananta.

Ananta menekankan pentingnya memahami Gen Z sebagai generasi yang hidup dalam ketidakpastian. 

Depresi dan kecemasan memberikan kontribusi besar pada beban gangguan kesehatan mental mereka. 

"Kita tidak boleh memberikan stigma negatif pada Gen Z. Meski banyak tekanan akibat perubahan sosial dan teknologi yang sangat cepat. Kita harus berikan dukungan penuh seperti memfasilitasi apa saja yang menjadi harapan Gen Z," tegasnya.

Ia juga memberikan beberapa tanda-tanda depresi atau stres, antara lain penurunan kesehatan mental, perasaan tidak kompeten, kesepian, aktivitas yang terasa tidak berarti, dan malas merawat diri. 

"Nah, ketika gejala itu sudah mulai dirasa, segera untuk berkonsultasi ke psikolog. Karena tidak semua bunuh diri bisa dicegah," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#psikolog #Emosional #psikologis #Bunuh Diri #mahasiswa #depresi #Gen Z