Inovasi Alat Deteksi Kualitas Minyak Goreng Buatan Mahasiswa Surabaya

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Senin, 17 Februari 2025 | 02:34 WIB

 

Adhitiya Dwijaya Ariyanto, mahasiswa Untag Surabaya menunjukkan hasil analisis kualitas minyak goring dengan metode fuzzy logic.
Adhitiya Dwijaya Ariyanto, mahasiswa Untag Surabaya menunjukkan hasil analisis kualitas minyak goring dengan metode fuzzy logic.

RADAR SURABAYA - Kualitas minyak goreng kini dapat dipantau dengan mudah berkat alat inovatif ciptaan Adhitiya Dwijaya Ariyanto, mahasiswa Untag Surabaya. 

Alat deteksi berbasis fuzzy logic ini menganalisis warna, kejernihan, dan bau minyak goreng untuk menentukan kelayakan penggunaannya, membantu masyarakat menjaga kesehatan keluarga.

Adhitiya mengungkapkan, ide penelitian ini muncul saat menjalani magang di sebuah perusahaan minyak goreng ketika masih menempuh pendidikan Diploma 3 di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). 

“Saya melihat proses pengolahan minyak goreng yang tanpa pewarna memiliki warna kuning cerah. Namun, di rumah, banyak ibu-ibu menggunakan minyak goreng berulang kali hingga warnanya berubah coklat pekat. Dari situ, saya mulai bertanya-tanya apakah perubahan warna ini mempengaruhi kualitas minyak,” kata Adhitya, Minggu (16/2).

Mahasiswa asli Surabaya ini menggali lebih dalam standar kualitas minyak goreng berdasarkan parameter yang diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI), seperti aroma, kejernihan, dan titik didih. 

Adhitiya memilih tiga parameter yang dapat diuji dengan alat sederhana, yaitu warna, kejernihan, dan bau.

“Ketiga parameter ini dapat dideteksi menggunakan sensor. Data dari ketiga sensor kemudian dianalisis menggunakan metode fuzzy logic untuk menentukan apakah minyak goreng masih layak digunakan atau tidak,” ungkapnya.

Metode fuzzy logic dipilih karena mampu mengolah berbagai variabel input untuk pengambilan keputusan secara cerdas dan efektif. 

Lebih lanjut dia menjelaskan alat tersebut dirancang menggunakan tiga sensor utama, yaitu sensor warna, sensor kejernihan, dan sensor gas untuk mendeteksi bau.

Proses pengembangan alat memakan waktu enam bulan, meliputi pembuatan perangkat keras, pemrograman mikrokontroler, dan pengembangan antarmuka grafis (GUI) menggunakan MATLAB.

Pengujian dilakukan pada berbagai sampel minyak goreng, mulai dari minyak baru hingga minyak yang telah digunakan beberapa kali.

Adhitiya juga menggoreng berbagai bahan makanan, seperti telur, tahu, tempe, ayam, terong, dan ikan, untuk melihat pengaruhnya terhadap kualitas minyak. 

“Hasilnya menunjukkan bahwa minyak yang digunakan untuk menggoreng ayam atau ikan lebih cepat keruh dibandingkan bahan lainnya karena kandungan lemak dan residu dari makanan tersebut,” jelasnya.

Meski menghadapi tantangan dalam pengumpulan sampel dan penyempurnaan alat, Adhitiya berhasil menyelesaikan kuliahnya akhirnya dalam waktu 2,5 tahun dengan IPK 3,49.

Adhitiya juga harus membagi waktu antara kuliah, penelitian, dan pekerjaannya sebagai mahasiswa kelas sore.

“Awalnya, dosen pembimbing menyarankan agar alat ini dibuat dalam bentuk portable sehingga bisa digunakan untuk mendukung pengawasan BPOM di lapangan, seperti memeriksa minyak goreng yang digunakan pedagang kaki lima. Namun, karena keterbatasan, alat ini sementara hanya bisa digunakan di skala rumah tangga,” kata Adhitiya.

Meski demikian, dia berharap alat ini dapat dikembangkan lebih lanjut agar lebih praktis dan bermanfaat untuk masyarakat luas. Selain itu  karyanya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, tentang pentingnya menggunakan minyak goreng yang sehat.

“Semoga alat ini bisa membantu masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan, karena sebenarnya minyak goreng idealnya hanya digunakan sekali saja,” pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
Sumber : radar surabaya
minyak goreng mahasiswa kesehatan bahan makanan untag surabaya