RADAR SURABAYA – Kisah-kisah dari cerita populer Disney selalu menarik untuk diangkat dalam suatu pertunjukan.
Seperti pertunjukan seni tari balet klasik yang mengangkat kisah ‘Moana’ digelar di gedung pertunjukan Cak Durasim, kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (1/2) malam.
Pertunjukan balet yang digelar oleh Premiere School of Ballet ini, menghadirkan cerita dengan gerakan-gerakan balet tanpa dialog.
Sylvi Panggawean, selaku Principal and Artistic Director Premiere School of Ballet mengatakan, total produksi Moana memakan waktu sekitar lima bulan termasuk pemilihan lagu, penyusunan gerakan, serta persiapan kostum.
"Yang paling lama untuk persiapan dari musik, detailing ceritanya dan casting. Karena harus menyesuaikan antara musik dengan gerakannya. Setelah musiknya terbentuk bagus itu kita buat koreografi tidak lama, sekitar satu bulan semuanya sudah selesai", jelas Sylvi.
Dengan hadirnya pertunjukan ini, ia berharap, karya original balet Moana bisa menginspirasi para pelaku seni tari se-Surabaya agar berani berkarya dan berani mengemas cerita dalam sebuah tarian panjang.
"Selain itu juga memberikan kesempatan bagi penari-penari untuk tampil di atas panggung besar," ujarnya.
Pertunjukan yang melibatkan 100 siswa ini berlangsung selama 60 menit. Pertunjukan ballet Moana dimulai dari ketika Moana masih kecil.
Diiringi lagu How Far I’ll Go, dalam sekejap Moana kecil berubah menjadi Moana remaja yang diperankan oleh Farahdhila, murid Grade 5 di Premiere.
Persis seperti cerita di film, Moana kemudian mengarungi lautan untuk mengembalikan Heart of Te Fiti agar pulau Motunui terlepas dari kutukan.
Seperti dalam film aslinya, Moana mengarungi lautan untuk mengembalikan Heart of Te Fiti demi menyelamatkan Motunui dari kutukan.
Dalam perjalanannya, Moana dibantu oleh Maui, manusia setengah dewa yang diperankan oleh Michael, seorang murid sekaligus pengajar hip hop di Premiere.
Petualangan keduanya diwarnai berbagai tantangan, mulai dari serangan bajak laut Kakamora, hujan meteor, hingga pertemuan dengan kepiting raksasa Tamatoa.
Pertunjukan mencapai puncaknya saat Moana menghadapi Te Ka, yang ternyata adalah Te Fiti dalam wujud lain.
Meskipun tanpa dialog, jalan cerita pertunjukan itu tetap mudah dipahami berkat pemilihan lagu yang tepat dan ekspresi mendalam dari para penari. (sam/nur)
Editor : Nurista Purnamasari