Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengapa Ada Orang yang Suka Curhat Masalah Pribadi di Media Sosial? Begini Menurut Psikologi

Jay Wijayanto • Minggu, 19 Januari 2025 | 15:35 WIB
Ilustrasi penggunaan media sosial sebagai tempat curhat.
Ilustrasi penggunaan media sosial sebagai tempat curhat.

RADAR SURABAYA-Pernahkah ketika membuka media sosial, Anda langsung dihadapkan dengan unggahan anonim yang bercerita tentang masalah pribadinya?

Ada yang bercerita tentang konflik asmara, keluh kesah di tempat kerja,sampai masalah sepeleh yang sebenarnya tidak perlu diceritakan di media sosial.

Semakin hari, semakin banyak orang-orang yang mengunggah hal-hal privasi. Pastinya, timbul pertanyaan, mengapa hal ini banyak terjadi? Bagaimana dampaknya bagi orang tersebut dan adakah kaitannya dengan psikologi?. Untuk menjawab hal-hal tersebut, mari simak penjelasan berikut ini.

Alasan Mengapa Orang Suka Curhat Masalah Pribadi di Media Sosial

1. Merasa Tidak Ada yang Benar-Benar Peduli

Hal pertama yang bisa menjadi salah satu faktor adalah munculnya perasaan bahwa tidak ada seorang pun yang peduli padanya. Perasaan inilah yang membuat ia memilih mencurahkan emosinya di media sosial ketika memiliki permasalahan.

2. Merasa Lebih Nyaman Jika Curhat Tanpa Ditanggapi Secara Langsung

Bagi beberapa orang, mereka memliki kekahwatiran tersendiri jika curhat pada orang lain. Entah karena pernah diabaikan ketika bercerita atau kurang mendapatkan respon yang menyenangkan. Di media sosial sendiri, memang ketika kita mengunggah cerita semua bisa menanggapi, tetapi itu tidak secara langsung sehingga dampaknya pun terasa berbeda dan masih dapat diatasi.

3. Tidak Berhasil Menemukan Sosok yang Tepat Untuk Bercerita

Berbeda dengan poin satu dimana pada kondisi tersebut seseorang benar-benar tidak memiliki teman, di poin ini ia memiliki beberapa figur tedekat, tetapi sayangnya tidak ada yang benar-benar bisa memahami dan mendengarkan ceritanya. Kemalangan ini membuat seseorang memilih mengungkapkan seluruh emosi dan unek-uneknya di media sosial. Terkadang memang seseorang hanya perlu didengar.

4. Selalu Kesulitan Mengatur Kata-kata Jika Curhat Secara Personal

Alasan lain yang mungkin adalah beberapa orang kesulitan mengatur kalimat. Ketika harus curhat secara langsung, beberapa orang mungkin bingung menjelaskan alur ceritanya, mungkin karena mereka tidak terbiasa berinteraksi dengan orang lain atau bingung mulai dari mana. Alhasil, mereka memilih mengungkapkan isi hatinya melalui media sosial, terlebih jika mendapatkan repson positif dari netizen.

Perilaku Oversharing di Media Sosial dari pandangan Psikologi

Dalam ilmu psikologi, fenomena oversharing atau curhat masalah pribadi di media sosial ini dikenal dengan istilah self-disclosure. Self-disclosure sendiri merupakan suatu tindakan membuka informasi pribadi kepada orang lain.

Kondisi ini terjadi ketika seseorang secara sukarela membuka informasi mengenai dirinya yang tidak akan diperoleh orang lain dari sumber selain dari pengungkapannya tersebut.

Kemudian, jika ditinjau dari seseorang ini termasuk ke dalam individu dengan need succorance atau kebutuhan untuk disayang. Dengan kata lain, ia berharap orang akan bersimpati dan merasa kasihan sehingga mau membantunya

Dampak Negatif Curhat di Media Sosial

Oversharing di media sosial seringkali tidak menyelesaikan masalah, melainkan justru menyebabkan dampak-dampak negatif yang mengganggu kestabilan mental seseorang. Berikut merupakan dampak negatif dari kebiasaan curhat di media sosial yang harus Anda ketahui:

1. Emosi Semakin Terpendam

Bagi beberapa orang, mengungkapkan masalah pribadi di media sosial dapat membuat perasaan lebih lega. Namun, perasaan ini bisa dibilang hanya berlangsung sementara. Orang-orang yang memiliki kebiasaan ini cenderung tidak dapat menyelesaikan masalahnya dengan tuntas. Hal ini menyebabkan emosi negatif yang tersisa dalam dirinya menumpuk sehingga justru dikhawatirkan di dunia nyata ia akan lebih sering mengekspresikan kemarahannya dengan cara yang negatif.

2. Emosi yang diekspresikan bisa menular dan berdampak negatif

Unggahan yang memiliki unsur kebencian dan kemarahan pada kenyataan seringkali muncul di beranda atau eksplor media sosial. Mau tidak mau pasti kita akan melihatnya.

Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi emosi kita, apalagi jika kita membaca dan ikut merasakan. Hal ini didukung oleh penelitian yang menyebutkan bahwa emosi negatif seseorang bisa muncul dari status bernada negatif yang diunggah orang lain di media sosial.

3. Kehilangan Pertemanan

Di beberapa kasus, seseorang seringkali curhat mengenai hal-hal yang ada di sekitarnya, termasuk tentang pekerjaan dan orang terdekat. Kadang, mereka tidak menyadari bahwa media sosial itu bersifat universal, yang artinya siapapun bisa membaca unggahan selama memiliki media sosial yang sama. Bukan tidak mungkin bahwa orang-orang terdekat yang menjadi subjek curhatan ikut membaca dan mengenalinya.

Studi juga menemukan bahwa banyak orang yang kemudian kehilangan pertemanan hanya karena unggahan di media sosial. Bahkan, tidak sedikit juga yang kemudian dilaporkan ke atasan dan dinilai tidak profesional.

Tips Mengekspresikan Suasana Hati di Media Sosial

Setelah tadi Anda mengetahui dampak negatif yang mungkin timbul dari kebiasaan curhat di media sosial. Ternyata ada loh cara ynag bisa Anda lakukan untuk mengekspresikan suasana hati dengan lebih sehat dan positif.

1. Membatasi Unggahan yang sifatnya personal

Untuk menghindari dampak negatif yang mungkin terjadi, akan lebih baik Anda membatasi atau bahkan tidak lagi mengunggah masalah pribadi ke media sosial. Hal ini bukan berarti menghalangi Anda untuk mengekspresikan diri. Anda tetap bisa melakukannya asal dengan catatan lebih selektif dalam memilih unggahan. Hindari unggahan yang terlalu pribadi, menyinggung orang lain, atau bahkan unggahan ynag ditujukan untuk flexing.

2. Menunda Sejenak Proses Pengunggahan

Sebelum Anda benar-benar menekan tombol pesawat, ada baiknya untuk mengalihkan perhatian dengan melakukan hal lain, seperti bermain game, menonton series, dan membaca buku. Anda juga bisa melakukan relaksasi sejenak untuk meredam emosi negatif dan membuatmu lebih tenang serta jernih. Setelah melakukan hal-hal tersebut, cobalah kembali berpikir apakah konten yang akan diunggah sudah sesuai atau belum.

3. Menghindari untuk mengungkap hal detail

Hindari mengunggah cerita atau foto yang tidak begitu penting atau terlalu detail tentang permasalahan pribadimu. Ingat, jejak digital akan selalu ada dan apabila hal-hal yang kamu unggah saat ini berpotensi menjadi penghalangmu di masa depan.

4. Mencoba untuk mengekspresikan diri dengan cara yang lebih positif

Sama halnya dengan unggahan negatif, unggahan yang mengandung kebahagiaan juga bisa menularkan energi yang selaras kepada para pembacanya. Oleh karena itu, alih-alih menyebarkan sesuatu yang negatif, cobalah untuk fokus mengunggah sesuatu yang membawa energi positif bagi orang lain. Gunakan media sosial untuk berbagi cerita-cerita bahagia dan informasi yang bermanfaat untuk pembaca. (han/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#media sosial #masalah pribadi #curhat #psikologi