RADAR SURABAYA - Sebanyak 16 makeup artist (MUA) atau perias muda se-Jawa Timur, mengikuti penyelenggaraan lomba rias yang digelar di Atrium Royal Plaza Surabaya, Kamis (9/1).
Lomba yang digelar di sela-sela penyelenggaraan pameran Traditional Wedding ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang digelar setiap tahun.
Show Director Exhibition Traditional Wedding, Rendy Masdiansyah mengatakan, lomba ini telah digelar mulai sekitar tahun 2021.
Selain untuk memeriahkan acara pameran, lomba rias ini digelar dengan tujuan untuk memberikan wadah kepada para perias-perias baru agar lebih berpengalaman di dunia mereka.
“Kita berusaha mencetak MUA-MUA baru agar lebih berpengalaman, dan bisa dilirik oleh para costumer yang mengunjungi pameran wedding ini,” kata Rendy.
Dipilihnya tema Engagement atau tunangan karena dianggap masih satu tema dengan rias wedding, jadi setiap peserta bisa lebih bereksplorasi.
Dalam lomba yang memperebutkan total hadiah sebesar jutaan rupiah beserta trophy dan piagam ini, ada beberapa yang harus diperhatikan oleh peserta karena menjadi penilaian dari dewan juri.
Selain makeup yang menjadi tema utama, penataan rambut, baju serta performa dari model tersebut.
“Kriteria penilaian dalam penilaian perlombaan ini meliputi makeup, baju yang digunakan, hairdo (penataan rambut, Red), serta performance dari model dalam show dihadapan para juri,” jelas Rendy.
Meskipun digelar secara rutin setiap tahun, perlombaan ini tidak membatasi peserta yang turut serta.
Seperti MUA yang pernah menjadi juara di kegiatan ini, masih bisa ikut lomba di event berikutnya.
Sementara itu, Aqilla Yumna, salah satu peserta lomba dari Surabaya mengatakan bahwa ia ingin menonjolkan riasan Thailand look dalam perlombaan ini.
“Karena sekarang sudah memasuki tahun 2025, mungkin trennya mengarah ke Thailand look ya. Jadi lebih simple tapi lebih agak bold gitu”, jelasnya.
Aqilla mengaku menampilkan Thailand look dalam perlombaan, karena tren saat ini orang sudah tidak ingin mencari yang ribet lagi.
Meskipun begitu ia mengalami kesulitan karena ada beberapa regulasi dalam perlombaan ini yang tidak sesuai dengan kebiasaan yang diberikan kepada kliennya, salah satunya adalah pembuatan alis.
“Kesulitannya ada di alis sih ya, karena peraturannya tidak diperbolehkan menggunakan alis serat. Sedangkan saya terbiasa menggunakan alis serat, jadinya lebih banyak waktu mengerjakan alis,” pungkas perempuan yang menggeluti dunia MUA sejak 2018 ini. (sam/nur)
Editor : Nurista Purnamasari