RADAR SURABAYA - Tren baru No-Buy Challenge 2025 populer dibicarakan oleh warganet di TikTok.
Tren ini mengajak masyarakat untuk hidup minimalis di tengah kondisi ekonomi luar dan dalam negeri yang mengkhawatirkan.
Pasalnya, sejumlah pakar ekonomi telah mengindikasikan bahwa tahun ini harga barang kebutuhan bakal naik, sedangkan penghasilan tidak demikian.
Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) RI, terjadi penurunan jumlah kelas menengah di Indonesia menjadi kelompok rentan miskin.
Pada 2019 silam, Indonesia memiliki 53,33 juta penduduk kelas menengah atau sebanyak 21,45 persen. Namun pada tahun 2024, jumlahnya turun menjadi 47,85 juta atau tersisa 17,13 persen.
Oleh sebab itu, tren ini marak diperbincangkan sebagai bentuk protes dari masyarakat ke pemerintah yang dianggap tak mampu menyejahterakan rakyatnya.
Sesuai namanya, No-Buy Challenge adalah tantangan yang mendorong seseorang untuk menghemat pengeluaran sepanjang tahun 2025.
Tujuan No-Buy Challenge
Tujuan tantangan ini adalah mengurangi konsumsi secara berlebih, menghemat uang, serta menerapkan gaya hidup minimalis.
Kendati demikian, No-Buy Challenge 2025 bukan berarti menghentikan sama sekali atau menihilkan pola konsumsi jasa atau barang seseorang.
Lebih tepatnya, membatasi pengeluaran untuk kebutuhan tersier maupun sekunder. Sehingga, masyarakat ditantang untuk fokus membeli kebutuhan dasar yang benar-benar penting.
Selain itu, adanya tantangan ini juga membantu untuk berpikir dua kali sebelum membeli dan mengurangi pola konsumsi yang tidak perlu. Bonusnya adalah mampu mengurangi stres akibat tekanan finansial.
Dari efek panjang, No-Buy Challenge 2025 mampu mendorong kesadaran terhadap dampak konsumerisme pada lingkungan.
Dengan mengurangi pola belanja secara impulsif, hal ini diharapkan juga akan berdampak pada penurunan volume sampah dan jejak karbon yang dihasilkan dari proses produksi dan distribusi.
Aturan No-Buy Challenge
Sejumlah influencer di TikTok sukses mempromosikan tantangan No-Buy ini dengan memberikan panduan sederhana.
Misalnya, tidak membeli kopi di kafe setiap hari, mulai berlangganan maksimal satu platform streaming dalam satu periode, membeli pakaian hanya pada saat diskon besar atau thrift shop, menghindari membeli barang mewah kecuali mendesak, hingga mendukung UMKM dibanding brand-brand besar.
7 Cara Menerapkan No-Buy Challenge
Ada beberapa cara untuk mengikuti tantangan ini, antara lain
1. Buat batasan Kebutuhan dan Keinginan
Sebelum memulai tantangan ini, penting untuk mengidentifikasi mana barang-barang yang termasuk kebutuhan dan keinginan. Hal ini akan menghindari pembelian secara impulsif.
Dengan berpikir dua kali apakah barang yang akan dibeli termasuk kebutuhan atau keinginan, maka diharapkan akan mulai selektif dalam membeli sesuatu.
2.Tetapkan Aturan Jelas
Tentukan barang-barang yang tidak akan dibeli. Perjelas juga waktunya. Misalnya, dalam setahun tidak akan gadget series terbaru, perabotan rumah tangga yang tidak mendesak, pakaian model terkini.
Hal ini akan membantu fokus pada kebutuhan esensial. Berikan ruang untuk pembelian yang memang mendesak saja atau tak terhindarkan, seperti hadiah untuk orang lain. Namun, pastikan jumlahnya seminimal mungkin.
3. Rencanakan Anggaran
Menyusun anggaran adalah langkah krusial dalam tantangan ini. Alokasikan dana hanya untuk kebutuhan pokok seperti makanan, biaya transportasi, biaya pendidikan, dan seterusnya.
Kemudian, dana yang biasanya untuk membeli barang-barang tidak mendesak bisa dimasukan ke tabungan atau bahkan investasi.
4. Catat Pengeluaran
Selalu catat dan pantau pengeluaran agar tetap disiplin. Sehingga bisa men-tracking seberapa banyak uang yang dikeluarkan dan lebih banyak digunakan untuk apa. Jika lebih banyak membeli barang yang tidak mendesak, maka perlu dibuat evaluasi.
5. Kurangi Belanja Online
Scrolling e-commerce akan membuat tergoda untuk membeli barang secara impulsif. Maka, caranya adalah batasi penggunaan aplikasi tersebut, bahkan bila perlu un-install dari perangkat. Penawaran voucher, diskon, hingga tanggal kembar akan membuat lengah dalam menerapkan tantangan ini.
6. Gunakan Barang yang Ada atau Masih Layak
Gunakan barang yang telah kamu punya selagi masih ada dan layak. Hal ini akan menekan pembelian barang baru yang tidak mendesak. Misalnya, tahan untuk membeli lipstik shade terbaru sebelum menghabiskan yang lama. Atau juga bisa tidak membeli pakaian tren terbaru selagi pakaianmu masih layak pakai.
7. Strategi Menahan Godaan
Godaan belanja berkedok self reward pasti akan muncul. Maka, kamu perlu memahami perbedaan boros dengan self reward. Dengan demikian, kamu akan minim tergoda untuk membeli sesuatu yang tidak perlu.
Selain itu, godaan dari luar juga berpotensi menggagalkan tantanganmu seperti ajakan nongkrong di kafe setiap minggu. Kamu bisa mengganti kebiasaan itu dengan aktivitas lain misalnya berolahraga, merawat rumah, mencoba resep masakan terbaru agar tidak perlu membeli makanan di luar, dan banyak aktivitas menarik lainnya.
Demikian penjelasan terkait No Buy Challenge 2025. Tantangan ini tidak sekadar tren, melainkan aksi nyata untuk mengubah kebiasaan impulsive buying agar lebih bijaksana. Berani mencoba tantangan ini? (feb/jay)
Editor : Jay Wijayanto