RADAR SURABAYA - Surabaya Symphony Orchestra (SSO), yang dikenal sebagai salah satu orkes simfoni terkemuka di Surabaya, sudah lima tahun tidak menggelar konser sejak pandemi Covid-19 melanda. Konser terakhir mereka bertajuk Glory to God berlangsung pada 10 Desember 2019 di Swiss Belinn Hotel, Surabaya.
Konser ke-93 tersebut menjadi momen terakhir bagi SSO sebelum dunia dilanda krisis pandemi yang menghentikan berbagai kegiatan seni dan budaya.
SSO, yang didirikan pada akhir tahun 1996 oleh Solomon Tong, sebelumnya rutin mengadakan tiga konser besar setiap tahun, yakni Konser Natal, Konser Paskah, dan Konser Kemerdekaan. Namun, pandemi membawa tantangan besar, mulai dari pembatasan sosial hingga kendala finansial, yang membuat orkes ini terpaksa menghentikan aktivitasnya.
Pauline Poegoeh, soprano andalan sekaligus guru musik SSO, mengungkapkan kerinduannya untuk kembali mengadakan konser seperti dulu. "Doakan semoga ke depan kita bisa konser lagi seperti dulu," ujarnya.
Namun, ia juga menyadari berbagai tantangan yang ada, termasuk usia pendiri sekaligus konduktor SSO, Solomon Tong.
Lahir di Xiamen, Tiongkok, pada tahun 1939, Solomon Tong telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia musik di Surabaya. Kini, di usia 85 tahun, energinya tidak lagi sama seperti dulu. Meski begitu, semangat yang ia tanamkan dalam tubuh SSO masih hidup di hati para musisinya. (*)
Editor : Lambertus Hurek