RADAR SURABAYA – Teknologi dan gadget selama ini telah mempengaruhi sebagian besar kehidupan anak-anak dan remaja saat ini.
Bahkan sebagian dari mereka tidak mengenal permainan tradisional.
Membawa semangat untuk mengembalikan eksistensi permainan tradisional, siswa di SMK Islam Al-Amal Surabaya diajak untuk memainkan Ninja Para siswa dipenuhi gelak tawa dan semangat saat mengikuti permainan Ninja Warrior Tradisional.
Mereka mengikuti setiap tantangan yang disiapkan. Dimulai dengan menggiring ban menggunakan tongkat menuju garis finish, mereka kemudian disambut oleh tiga orang yang memainkan becak-becakan, sebuah permainan tradisional yang membutuhkan kekompakan dan kekuatan tangan.
Di tantangan kedua, dua dari tiga orang yang memainkan becak-becakan menutup mata mereka, sementara satu orang lainnya bertugas mengarahkan mereka ke arah kanan, kiri, atau lurus.
Setelah sampai di titik berhenti pertama, mereka langsung beralih ke tantangan berikutnya yaitu lompat tali sebanyak 25 kali.
Tantangan terakhir adalah bermain egrang bambu hingga mencapai garis finish.
Kelima permainan ini menjadi rangkaian misi yang harus di selesaikan oleh para siswa.
"Kami menyebutnya Ninja Warrior Tradisional karena konsepnya mirip dengan Ninja Warrior, yaitu menyelesaikan misi dengan melewati berbagai tantangan," jelas founder Kampoeng Dolanan Mustofa Sam, Rabu (18/12).
Acara ini digelar Kampung Dolan dan SMK Islam Al-Amal Surabaya ini bertujuan menghidupkan kembali permainan tradisional di kalangan anak muda, terutama di Surabaya.
Meski waktunya sedikit namun setidaknya mereka sudah mempunyai pengalaman bermain permainan tradisional di sekolah untuk melestarikan dan membudayakan permainan tradisional.
"Karena keterbatasan waktu di sekolah, kami hanya memberikan lima tantangan. Inspirasinya tetap dari tayangan televisi Ninja Warrior, namun permainan yang kami gunakan adalah permainan tradisional," ujarnya.
Pria yang akrab Cak Mus juga menekankan manfaat dari permainan tradisional ini, seperti mengasah motorik, melatih kejujuran, meningkatkan kepekaan dan kepedulian, serta membangun kekompakan dan ketekunan fisik.
"Misalnya, dalam permainan becak-becakan, jika tangan mereka tidak kuat, mereka akan lemah dan turun. Itu juga mengandung unsur olahraga, kecerdasan, kepekaan, dan kepedulian," jelasnya.
Menurut Mustofa, antusiasme para siswa terhadap permainan tradisional ini sangat tinggi.
Bahkan selama dia melakukan road show permainan tradisional keluar masuk kampung mereka yang mayoritas anak-anak dan remaja ini sangat senang.
"Harapannya, mereka yang sudah memainkan permainan ini hari ini bisa mempraktekkannya kembali di kampung mereka selama liburan sekolah," ujarnya.
Jika dipresentasikan 98 persen mereka antusias melestarikan permainan tradisional.
Meski ada satu dua orang yang memang menurut Mustofa ketagihan gadget dan tidak bisa lepas.
Meski demikian tantangan yang dihadapi Mustofa ketika memperkenalkan permainan tradisional adalah orang tua maupun kakek nenek yang dititipi anak tersebut.
"Tantangan terbesar kami bukanlah di anak-anak, melainkan di orang tua dan kakek nenek yang cenderung melarang anak-anak mereka bermain karena takut terjadi kecelakaan atau luka. Namun, saya yakin mereka akan terus melanjutkan permainan ini," ungkapnya.
Sementara itu, permainan ini diikuti oleh sebanyak 361 anak dari kelas 10, 11, dan 12. Ini merupakan kali pertama sekolah tersebut menyelenggarakan kegiatan permainan tradisional.
"Kami ingin memberikan kesempatan bagi siswa untuk melupakan sejenak dunia digital dan kembali merasakan keseruan bermain tradisional," ujar Moh Hisyam Fithrony, Kepala Sekolah SMK Islam Al-Amal Surabaya.
Permainan tradisional memiliki filosofi yang mendalam. Misalnya, lompat tali menggunakan karet. Kita diajarkan bagaimana merakit sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang bermakna. Ini dapat melatih pola pikir siswa untuk menjadi lebih logis dan berkembang.
"Kami ingin anak-anak Indonesia mampu menciptakan konten berkualitas, tidak hanya sekedar konten receh. Permainan tradisional ini bisa menjadi inspirasi bagi mereka untuk menciptakan konten kreatif dan edukatif," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari