RADAR SURABAYA – Rumah produksi Skak Studios milik Bayu Skak kembali mencuri perhatian publik dengan mengumumkan dua proyek film terbarunya.
Dalam acara pasar film Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Market, Bayu mengungkap dua judul film yang akan dirilis pada 2025 dan 2026, yaitu FOuFO dan Expedisi.
"Skak Studios berkolaborasi dengan Sinemart memperkenalkan dua judul yaitu FOuFO dan Expedisi," ungkap Bayu dalam unggahan di Instagram @moektito pada Jumat (6/12).
FOuFO yang bergenre komedi-fiksi sains, akan mengisahkan sebuah UFO milik alien yang mendarat di Madura.
Sementara itu, Expedisi yang bergenre komedi-horor, bercerita tentang sekelompok mahasiswa yang gagal menjalankan bisnis event organizer (EO), lalu beralih profesi menjadi pembuat dokumenter bertema klenik.
Lili Sunawati, produser FOuFO dan Expedisi, menjelaskan bahwa proyek ini masih dalam tahap pengembangan karakter dan skenario.
“Karakternya sudah ditentukan, termasuk seperti apa perawakannya, usianya, hingga detail lainnya,” katanya.
Rencananya, proses syuting untuk kedua film tersebut akan dimulai usai Lebaran tahun depan. Bayu juga mengungkapkan bahwa akan ada audisi kecil-kecilan untuk mencari pemeran yang sesuai dengan karakter unik yang telah dirancang.
“Standarnya, orangnya harus cerewet. Jadi, kalian upayakan secerewet mungkin,” ujar Bayu memberi bocoran.
FOuFO yang berlatar di Madura, dipastikan akan melibatkan aktor lokal untuk menjaga keaslian dialek dan budaya. Sesuai idealisme Bayu Skak, yang dikenal dengan komitmennya pada nilai-nilai lokalitas.
Hal ini juga selaras dengan pendekatannya pada film sebelumnya, seperti Sekawan Limo yang menggunakan dialek Jawa Timuran.
Baca Juga: Daftar Pemenang FFI 2024, Jatuh Cinta Seperti di Film Film Borong 7 Piala Citra
Di tengah antusiasme pengumuman, Bayu Skak justru menuai kritik dari warganet setelah mendeklarasikan dua gambar konsep judul film yang ternyata menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
"Kok posternya AI sih, Mas Bay? Tak kira sampean kan seorang seniman jadi melek soal permasalahan seberapa problematiknya penggunaan AI pada bidang kesenian, kok malah posternya pakai AI ya?" tulis akun @rima***.
Menanggapi kritik tersebut, Bayu memberikan klarifikasi panjang yang merinci proses di balik penggunaan gambar AI tersebut. Ia menegaskan bahwa gambar yang ditampilkan bukanlah poster resmi dari kedua film tersebut.
Bayu menjelaskan bahwa gambar tersebut hanyalah konsep awal yang digunakan untuk keperluan deklarasi judul film.
"Lihat videonya sampai selesai dong, dengarkan Bu Lili ngomong ‘ini kita belum launching posternya.’ Itu memang bukan poster. Poster itu rilis ketika sudah ada photoshoot dan sudah meng-hire orang poster," tulis Bayu.
Bayu menekankan bahwa deklarasi ini bertujuan untuk mengamankan kesepakatan dengan produser yang mendukung proyek film berbahasa Madura.
Mengingat deklarasi judul ini dilakukan dalam waktu singkat dengan memanfaatkan momen keberadaan mereka di JAFF Market.
"Kita deklarasi karena mumpung lagi ada di acara JAFF. Ide deklarasi judul ini minus 4 atau 3 jam sebelum. Yang penting kita amankan kalau judul ini dan konsep komedi sci-fi ini mau bikin tahun depan. Produser mana yang mau deal dengan ide kayak gini coba? ini ada yg mau, jadi langsung harus diamankan dealnya, deal akan judulnya dulu, biar projectnya jalan dulu," tambahnya.
Meski begitu, Bayu Skak mengakui kesalahannya tersebut dan menjadikan hal ini sebagai pelajaran bagi dirinya beserta tim di kemudian hari.
"iya si bener, ini mencoba reply2 in sama minta maaf karena yg aku tangkep dari masukan masukan orang orang ke depan rilisnya logo saja juga aman ya. jadi meskipun buru buru buat dapat deal project tapi ya lebih baik pakai logo aja ya. ini berbenah lah kami juga ke depan aku dan timku," tulisnya.
Selain FOuFO dan Expedisi, Skak Studios juga diketahui sedang menyiapkan film lain, seperti Cocote Tonggo, yang menggunakan bahasa Jawa Mataraman, serta Sukses Jaya yang berkisah tentang para kuli Jawa.
Ke depannya, Bayu juga membuka kemungkinan menggarap film dengan bahasa daerah lain seperti Minang, Batak, atau Bali. (aul/jay)
Editor : Jay Wijayanto