Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Inovasi Canting Cap Ramah Lingkungan untuk UMKM Batik Dolly Surabaya, Dibuat Motif Bunga hingga Gorengan

Nurista Purnamasari • Rabu, 20 November 2024 | 22:37 WIB
INOVASI: Aniendya Christianna memberikan pelatihan kepada warga eks lokalisasi Dolly membatik dengan menggunakan canting cap.
INOVASI: Aniendya Christianna memberikan pelatihan kepada warga eks lokalisasi Dolly membatik dengan menggunakan canting cap.

RADAR SURABAYA - Ada banyak inovasi dalam mengembangkan produksi batik.

Selain menggunakan canting kini ada cara baru dalam memproduksi kain batik yakni dengan alat canting cap yang ramah lingkungan.

Sebab, alat canting cap menggunakan bahan-bahan daur ulang seperti dari duplek atau kardus karton dan kayu yang tak terpakai. 

Seperti yang dilakukan oleh warga eks Lokalisasi Dolly yang memanfaatkan bahan-bahan daur ulang untuk membuat alat canting cap batik.

Berbagai motif pun juga dihasilkan dari canting cap ini mulai dari motif bunga, buah-buahan, sandal hingga gorengan.

Inovasi warga ini juga didampingi oleh tim dosen lintas disiplin Petra Christian University (PCU) Surabaya.

Menurut ketua tim dosen lintas disiplin yang mendampingi pembuatan batik canting cap, Aniendya Christianna selama ini teknik canting batik memakan waktu dan membutuhkan keterampilan yang tinggi.

Hal ini menyebabkan produktivitas yang rendah, dengan UMKM biasanya hanya memproduksi satu potong kain per bulan.

"Karena permasalahan berangkat dari UKM batik di sini (eks Lokalisasi Dolly, Red) tidak berkembang signifikan dari produktivitasnya. Sebelumnya UKM di sini produksi satu kain satu bulan karena menggunakan canting tulis," ujar Aniendya, Selasa (19/11).

Bahkan menurut Aniendya untuk membeli alat batik canting tulis dibutuhkan biaya yang agak mahal, bisa mencapai Rp 2 juta.

"Dan itu harus pesan di Jawa Tengah. Sehingga menghambat pertumbuhan bisnis batik bagi warga," imbuhnya.

Oleh karena itu, pihaknya mempunyai gagasan yang lebih inovatif terutama ramah lingkungan dalam membuat batik.

Bahkan memungkinkan pembuatan batik hingga 20 desain berbeda per hari.

Peningkatan produktivitas batik nantinya diharapakan bisa berpotensi mencapai 12 potong kain per hari.

Meski demikian, menurut Aniendya dengan alat tersebut tidak mengurangi esensi dalam membatik, karena batik itu tidak harus tulis, batik cap juga termasuk batik tradisional.

"Jadi batik itu tidak harus tulis tapi batik cap juga termasuk batik tradisional. Nah, menariknya dengan batik cap ini mereka juga bisa membuat berbagai desain dengan konsep budaya urban sebagai sumber inspirasi,” ungkap dosen desain komunikasi visual ini.

“Seperti batik motif gorengan, buah-buahan. Artinya mereka menyesuaikan desain canting cap dengan keinginan motif yang akan dibuat," imbuhnya.

Sementara itu, harapan warga dengan adanya canting cap ini akan mempermudah membuat motif batik dan mempercepat produksi batik.

"Ya awalnya memang sulit dan ribet harus mempersiapkan bahannya dan membuatnya. Tapi nanti pasti akan lebih mudah," ujar Ketua PKK RW 12 Putat Jaya, Silvia Retnaning.

Dia mengaku selama ini belum pernah mencoba untuk menggunakan alat canting cap ini.

Menurutnya, hampir sama dengan batik canting umumnya, bahkan untuk membuat motif juga menggunakan lilin. Yang membedakan hanya alatnya saja. 

Silvia menyebut sudah membuat kurang lebih 10 motif batik seperti batik anggur, cincau, sandal, daun jarak hingga batik ramah anak.

"Harapannya setelah ini kami akan membuat KUB Batik dan segera memproduksi secara masal batik dari warga Eks Lokalisasi Dolly. Dengan berbagai motif untuk membantu perekonomian warga sekitar," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#surabaya #Batik #ramah lingkungan #Eks Lokalisasi Dolly #umkm #canting #daur ulang