Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengenal Hypersomnia, Penyebab jadi Sering Mengantuk di Siang Hari

Jay Wijayanto • Selasa, 12 November 2024 | 19:40 WIB
Photo
Photo

RADAR SURABAYA – Kebiasaan bagi setiap orang yang sering mengantuk di siang hari pastinya disebabkan akibat kurangnya tidur yang cukup. Itulah yang selalu menjadi persepsi masyarakat terhadap seseorang yang sering mengantuk di saat jam produktif pada siang hari.

Namun, apakah anda tahu bahwa penyebab dari kebiasaan mengantuk di siang hari juga disebabkan dari kondisi kesehatan yang sedang tidak baik di tubuh kita?

Sering dianggap hal yang sepele namun, kebiasaan ini juga merupakan salah satu akibat dari gangguan kesehatan yang disebut Hypersomnia.

Hypersomnia atau yang bisa disebut Hipersomnia merupakan kondisi yang menyebabkan seseorang mengantuk di siang hari secara berlebihan walau telah mendapatkan cukup tidur di malam sebelumnya.

Hypersomnia sendiri dibedakan menjadi 2 jenis, diantaranya ada Hypersomnia primer dan Hypersomnia sekunder yang masing-masing kedua jenis ini memiliki sebab yang berbeda.

Hypersomnia primer

Hypersomnia primer merupakan kondisi yang lebih jarang terjadi akibat dari fungsi sistem saraf pusat dalam mengatur waktu untuk terjaga dan terlelap. Selain itu, Hypersomnia primer juga disebabkan akibat mutasi genetik yang membuat produksi Histamin di dalam otak menjadi berkurang. Meski disebabkan dari mutasi genetik, hypersomnia primer bukan gejala kondisi yang dapat diturunkan dari orang tua ke anaknya.

Hypersomnia sekunder

Hypersomnia sekunder disebabkan akibat dari kondisi tidur seseorang, riwayat penyakit yang diderita, dan efek dari alkohol atau obat-obatan tertentu. Beberapa penyakit atau kondisi yang menjadi pemicu dari Hypersomnia sekunder di antaranya adalah:

* Gangguan tidur pada seseorang, misalnya seperti Sleep Apnea dan Restless Syndrome.

* Penyalahgunaan narkotika atau NAPZA.

* Penyalahgunaan dosis obat-obatan yang berlebihan.

* Menderita gangguan mental diantaranya Anxiety Disorder, Depresi, Bipolar Disorder, dan lain sebagainya.

* Pernah mengalami Trauma Kepala.

* Menderita Epilepsi (gangguan sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik otak yang abnormal).

* Pecandu alkohol dan perokok berat.

Gejala Hypersomnia

Gejala khas hipersomnia adalah rasa mengantuk dan lelah yang dirasakan di sepanjang harinya walau sudah memperoleh jatah waktu tidur yang cukup bahkan lebih pada malam kemarin. Selain itu, sejumlah gejala yang kerap muncul akibat hipersomnia adalah sebagai berikut:

* Tidak ada nafsu untuk makan

* Pusing dan nyeri di kepala

* Cenderung suka gelisah dan mudah marah

* Kesulitan untuk berpikir dan berbicara dengan cepat

* Kesulitan untuk mengingat dan berkonsentrasi dengan baik

* Rasa mengantuk dan kelelahan yang ekstrem terjadi terus menerus

* Berhalusinasi

Diagnosis Hypersomnia

Dalam proses mendiagnosis kondisi Hypersomnia, dokter akan menanyakan kondisi medis pasien diantaranya adalah riwayat kesehatan pasien, keluhan atau gejala yang dialami oleh pasien, dan jenis obat-obatan yang sedang dikonsumsi.

Pasien juga diminta untuk menulis Catatan harian tidur atau Sleep Diary yang telah disediakan selama beberapa minggu agar dokter dapat mengetahui kondisi medis pasien melalui pola tidurnya.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan kepada pasien untuk memastikan diagnosis hypersomnia yang meliputi:

* Polysomnography atau Polisomnografi, untuk memantau dan mendeteksi aktivitas listrik otak, gerakan mata, kadar oksigen, denyut jantung serta fungsi pernafasan saat pasien tertidur.

* Multiple sleep latency test, untuk mengukur lama waktu yang dibutuhkan pasien untuk mulai tertidur sekaligus menilai fase tidurnya.

* Epworth sleepiness scale berupa Kuesioner untuk mendiagnosis, menilai dan mengukur keparahan kondisi pasien hypersomnia.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui kondisi lain yang menyebabkan Hypersomnia jika diperlukan. Jenis pemeriksaan tersebut antara lain:

* Tes darah untuk memeriksa kadar hormon tiroid pada pasien.

* Pemindaian dengan CT Scan atau MRI untuk memeriksa kelainan di otak.

* Elektroensefalografi (EEG) guna untuk mendeteksi gejala Epilesi dengan menempelkan elektroda pada kulit kepala pasien.

Mengatasi Hypersomnia

Pengobatan terhadap kondisi hypersomnia dapat diatasi sesuai dengan penyebab yang mendasarinya. Beberapa metode yang umum dilakukan untuk menangani hipersomnia adalah sebagai berikut :

* Terapi perilaku kognitif guna membantu mengurangi kecemasan karena tidak bisa tertidur.

* Pemberian obat-obatan sesuai rekomendasi dokter untuk membantu pasien lebih mudah untuk tidur

* Menerapkan pola sleep Hygiene dengan menghindari aktivitas yang dapat menurunkan kualitas tidur yang berkurang ketika akan memasuki waktu tidur.

Seseorang yang terkena kondisi Hypersomnia juga disarankan untuk merubah pola hidupnya seperti menghindari merokok, dan alkohol serta rutin mengkonsumsi makanan yang sehat dan diet yang seimbang guna untuk menjaga metabolisme dan energi di dalam tubuh. Sebab kondisi dari Hypersomnia dapat dialami akibat dari gaya hidup seseorang yang berantakan. (ken/jay)

 

Editor : Jay Wijayanto
#kurang tidur #begadang #siang hari #mengantuk