RADAR SURABAYA – Jawa Timur (Jatim) memiliki banyak warisan tradisi dan budaya yang sangat beragam.
Salah satunya Wayang Beber asal Pacitan yang saat ini masih eksis.
Masyarakat Surabaya bisa menikmati Wayang Beber ini dalam pameran seni rupa tradisi di Pekan Wayang Jawa Timur (PWJ) 2024 di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur.
Pameran ini dalam rangka menyambut Hari Wayang Nasional ke-6 yang jatuh pada 7 November mendatang.
Dengan mengambil tema Wayangku Keren Wayangku Beken, wayang diharapkan bisa menjadi bagian dari generasi muda baik dipelajari karena mengandung banyak nilai di dalamnya.
Menurut penerus wayang beber Pacitan generasi ke-14, Rudi Prasetyo, dalam lukisan ini membawa 10 lukisan dengan berbagai cerita.
Seperti Jagong Taratebeng, yang mengisahkan di Taratebeng pertemuan antara Raden Gandarepe dengan sedahrama yang merundingkan tentang lamaran Raden Klana kepada Dewi Sekartaji, namun lamaran tersebut masih ditangguhkan karena Dewi Sekartaji belum resmi ditemukan.
Ada juga Panji Murka yang mengisahkan Raden Panji yang sedang marah dikarenakan adanya pengkhianatan para abdinya kepada dirinya. Dengan jiwa astabrata yang tinggi.
Raden Panji Memutuskan dengan seadil adilnya kepada seluruh punggawanya dalam menata kerajaan agar lebih baik.
"Wayang beber sebuah kesenian warisan zaman Majapahit akhir yang melukiskan adalah putra Brawijaya yakni Raden Sungging Prabangkara. Wayang beber menceritakan kisah perjalanan Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji," kata Rudi, Rabu (6/11).
Kalau cerita atau lakon yang terakhir di Pacitan dia menyebut adalah Panji Joko Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji yang sampai saat ini artefaknya masih ada di Pacitan.
"Kami sebagai generasi penerus wayang beber, terus mensosialisasikan lewat cara menduplikat tranformasi ke dalam hiasan dinding maupun seni tari dan sebagainya," tuturnya.
Selain ada di Pacitan, wayang beber juga ada di Yogyakarta. Namun yang membedakan diungkapkan Rudi pada ceritanya serta ornamennya.
"Di Pacitan menggambarkan kisah Panji Joko Kembang Kuning, kalau di Yogyakarta Panji Remang Mangun Joyo. Secara ornamen Pacitan penuh di Jogja ada yang penuh dan space yang kosong dalam lukisannya," ungkap pendiri sanggar Loeng Pacitan.
Dia mengaku di Jawa Timur, hanya ada satu wayang beber yakni di Pacitan.
Dengan tampilnya seni rupa wayang beber ini Rudi berharap kepada generasi muda bisa mengerti dan mengenal serta mempelajari nilai yang terkandung di wayang beber.
"Karena cerita wayang beber mengandung banyak nilai yang baik secara cerita, etika serta estetika sangat luar biasa," ujarnya.
Selain wayang beber juga ada wayang kulit yang ditampilkan dalam seni rupa wayang.
Perbedaan wayang beber dengan wayang kulit menurut Rudi terletak pada ceritanya.
"Kalau wiyaga empat orang dalang satu orang. Wayang beber ceritanya maksimal 2 jam kalau wayang kulit semalam suntuk," ungkap Rudi.
Sementara itu, kurator seni rupa wayang beber, Agus Koecink mengatakan, selama ini pameran lebih banyak tentang karya modern atau kontemporer. Sehingga pada seni rupa tradisi jarang sekali dipamerkan.
"Jadi puluhan wayang beber yang mempunyai sejarah panjang sebelum era Majapahit, Majapahit hingga sekarang patut untuk ditampilkan sebagai seni rupa wayang," kata Agus Koecink.
Dengan melihat kekayaan pada nilai wayang beber ini dia mengajak supaya masyarakat Jatim dan generasi muda supaya tahu ternyata ada seni rupa tradisi.
"Nilai di dalamnya ada sejarah filosofi dan nilai guna artinya setiap pengerjaan rupa tradisi pasti punya nilai yang punya fungsi guna berguna untuk ritual media penyadaran dan sebagainya,” tuturnya.
“Salah satunya mengangkat bahwa wayang beber dan wayang kulit harusnya menjadi salah satu frame seni rupa yang harus dipelajari," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari