RADAR SURABAYA - Banyak cara bisa dilakukan untuk menghasilkan karya busana yang sustainable atau ramah lingkungan.
Seperti yang dilakukan oleh perancang busana Imami Arum Tri Rahayu yang menggunakan kain ecoprint yang terbuat dari serat alam dan pewarna alami.
Selain itu, limbah daun untuk pembuatan motif dan pewarnaan dapat diolah kembali menjadi pupuk kompos.
Menurut Imami Arum, untuk membuat busana dengan konsep ecofashion dirinya membuat kain ecoprint yang terbuat dari serat alam seperti katun dan sutra dengan menggunakan pewarna alami.
Dengan motif dari daun yang ada di sekitar. Daun yang digunakan seperti daun jati, pepaya, jarak, jambu maupun pepaya.
"Produk kami adalah kain untuk busana. Ada dua kain tanpa jahitan dan potongan sehingga tidak menimbulkan limbah tekstil," ujar Imami, Senin (4/11).
Pembuatan busana ecoprint yang dia buat menggunakan teknik wrap and drape, yaitu teknik pembuatan busana tanpa potongan dan tanpa jahitan, sehingga tidak menimbulkan limbah tekstil.
"Jadi kita juga bekerja sama dengan salah satu UKM. Nantinya limbah daunnya itu diolah menjadi kompos sekaligus tidak menimbulkan sisa kain. Sehingga kita benar-benar menerapkan zero waste," terangnya.
Busana yang digunakan hanya ditali atau dililit. Bahkan bisa dibongkar kembali disesuaikan dengan style yang berbeda.
"Makanya kami tidak menyisahkan sisa kain sekaligus tidak menggunakan teknik menjahit karena kain pada busana hanya dililitkan atau ditali saja," ungkap dosen mata kuliah Ecofashion di Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.
Busana ecofashion ini menurut Imami Arum cocok digunakan sebagai evening wear seperti untuk pesta maupun juga bisa dipakai untuk kasual juga.
"Bisa untuk formal maupun non formal juga bisa. Seperti evening wear busana pesta, juga dipakai kasual," jelasnya.
Dalam rancangan ini dia sudah membuat 20 looks yang juga sudah diperagakan dengan teknik busana menggunakan wrap dan drape. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari