Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Suguhan Karya Fotografi Hari Yong dan Cak Eed lewat Jati Diri

Rahmat Sudrajat • Senin, 4 November 2024 | 01:53 WIB
PENUH MAKNA: Intan mengamati karya fotografi karya Hari Yong dan Cak Eed dengan tema Jati Diri yang dipamerkan di Galeri Merah Putih Kompleks Alun-Alun Surabaya, Minggu (3/1).
PENUH MAKNA: Intan mengamati karya fotografi karya Hari Yong dan Cak Eed dengan tema Jati Diri yang dipamerkan di Galeri Merah Putih Kompleks Alun-Alun Surabaya, Minggu (3/1).

RADAR SURABAYA - Ada berbagai cara untuk menemukan jati diri dalam berkarya.

Salah satunya dengan mengabadikan foto lewat proses menangkap "keindahan" objek.

Cara inilah yang dilakukan oleh dua fotografer senior Hari Yong dan Cak Eed yang karya jati dirinya terekam dan dipamerkan di Galeri Merah Putih Kompleks Balai Pemuda Surabaya, Minggu (3/11). Pameran tersebut bertajuk Jati Diri.

Hari Yong yang berpetualang untuk menemukan keindahan dengan merekam keseharian dari seniman senior, Nuzurlis Koto.

Sedangkan Cak Eed mendapatkan foto keindahan lain lewat cermin usang belakang panggung di kampung seni THR.

Menurut Hari Yong, dipilihnya Nuzurlis Koto sebagai objek dalam karya fotonya sebagai tanda konsekuensinya seniman dalam bidangnya.

Selain itu, Hari Yong juga ingin memperlihatkan keramik karya Nuzurlis Koto yang merupakan seniman senior Surabaya. 

"Saya ingin gambar (foto, Red) yang mencerminkan sisi lain tentang Surabaya. Makanya saya memilih mas Nuzurlis Koto sebagai orang yang konsekuen di bidang seni keramik," ujar Hari Yong.

Dari 15 foto yang dipamerkan, Hari Yong memamerkan delapan foto karyanya yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari Nuzurlis Koto dalam berkarya membuat patung dari keramik.

Dia berharap lewat karyanya ini orang dapat mengetahui bahwa proses itu tidak segampang apa yang dibayangkan.

Selain itu, ia juga ingin mengajak generasi muda untuk mengenal lebih dekat seniman senior seperti Nuzurlis Koto.

"Supaya orang tahu proses memang nggak segampang itu. Juga generasi baru supaya lebih tahu seniman Surabaya seperti Nuzurlis Koto," harapnya.

Sementara itu, Cak Eed juga menambahkan bahwa pameran foto Jati Diri ini sebagai pelengkap dari cerita seniman Nuzurlis Koto, melalui seniman yang lain di Kampung Seni THR yang menggambarkan refleksi atau cermin.

"Konsep fokusnya ke seniman. Jadi foto kita melengkapi dengan seniman yang lain. Seniman teater tradisional yang lebih mudah melihat karakter mereka," ujar Cak Eed.

Foto yang diabadikan oleh Cak Eed sebelum tahun 2014 di back stage Gedung Pringgodani THR atau ketika THR masih berdiri dan aktif dengan pertunjukan keseniannya.

"Pesan yang disampaikan foto itu ruang meditasi dan renungan bagi yang melihat. Bahwa di setiap individunya ada perjalanan keheningan keindahan yang unik,” tutur Cak Eed.

“Foto ini intropeksi kita ambil cermin sebagai bahan refleksi. Menerima tidak kesempurnaan untuk menjadi pribadi yang lebih utuh," imbuhnya.

Selain itu, juga foto karyanya juga mencerminkan sisi lain kota Surabaya yang dulu terdapat kampung seni THR. "Nah, salah satunya ini sebagai pengingat di Kota Surabaya," jelasnya.

Cak Eed menghadirkan tujuh karya foto yang semuanya tidak melalui proses penataan foto atau candid camera.

"Inilah yang yang dimaksud setiap orang punya jati diri sendiri termasuk ada kesendirian. Foto semua ini candid, semua tidak kita tata," ungkapnya.

Menariknya dalam pameran tersebut seluruh karya yang dipajang tidak menggunakan bingkai bahkan terkesan mengabaikan estetika.

"Ya memang kita tidak menonjolkan visualnya yang estetik. Kita sedikit mengaburkan hal yang nyata ini supaya tetap bisa dinikmati masyarakat lewat jati diri kita," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#seniman #Nuzurlis Koto #pameran fotografi #thr