RADAR SURABAYA - Sebanyak 23 lukisan tentang Presiden RI ke-4 yang juga merupakan Sang Guru Bangsa Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mewarnai karya dari perupa Nabila Dewi Gayatri.
Lukisan yang dipamerkan di Galeri Merah Putih dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Kompleks Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (19/10) malam ini bertema Angon Angin.
Lukisan tentang Gus Dur telah dibuat Nabila Dewi sejak 2017-2024.
Berbagai cerita tentang sosok Gus Dur dilukiskan Nabila dalam sebuah perspektif dan gestur yang kuat bersama dengan para tokoh maupun kyai dari kalangan Nahdatul Ulama (NU).
Nabila menggambarkan Gus Dur seperti bocah angon yang dapat mengendalikan kondisi anomali.
Menurutnya, angon atau menggembala itu gampang seperti angon sapi atau kambing.
Namun yang sulit jika angon angin. Karena sifat angin yang sulit dipegang.
"Menurut saya sesuatu yang tidak bisa dipegang atau tidak bisa diprediksi (anomali) seperti kondisi bangsa sekarang yang mampu mengendalikan adalah Gus Dur. Karena Gus Dur yang mampu menjadi avatar, mampu mengurus bangsa dan negara secara lilahitaala tidak berorientasi tentang kekuasaan," ujar Nabila.
Lebih lanjut Nabila menjelaskan, apa yang dilakukan oleh Gus Dur ketika masih hidup, Gus Dur berkhidmat bagi agama, bangsa dan negara.
"Jadi Gus Dur adalah orang yang membebaskan diri dari keduniawian (zuhud, Red). Sifat keduniawian sudah keluar," jelasnya.
Nabila mengaku lukisan Gus Dur yang paling lama mengerjakannya serta menjadi favorit, adalah lukisan yang berjudul Abhipraya Nawasena yang berarti menuju kehidupan yang lebih baik. Karena menurutnya lisensi hidupnya terlihat di visual.
"Dalam lukisan itu saya menceritakan tentang Gus Dur hijrah dengan membawa berbagai hewan seperti halnya kisah hijrah Nabi Nuh. Ini yang saya artikan menuju kehidupan yang lebih baik," ungkap perempuan yang menggeluti dunia lukis sejak tahun 1990 ini.
Selain itu, ada lukisan yang dia buat yang berjudul Andhap Asor.
Dalam lukisan tersebut terlihat Gus Dur tertunduk dengan background panorama ketinggian Dieng.
Menurut Nabila, ketika di ketinggian atau kekuasaan menjadi Presiden ke-4 Indonesia, Gus Dur tetap Andhap Asor.
"Menginjak bumi menjunjung langit. Menghargai semua orang dan menjadi rahmatan lilalamin. Dan itulah sifat Gus Dur yang saya pelajari," imbuhnya.
Pemeran seni rupa tunggal yang ke-6 ini dia persembahkan untuk memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh 22 Oktober mendatang.
Nabila mengaku lukisan merupakan karya yang abadi dalam ingatan.
Dipajang bertahun-tahun masih bisa dinikmati. Sehingga dia mempersembahkan lukisan ini untuk para kyai, karena perjuangan kyai sangat banyak bagi republik ini.
"Jadi ini pameran ini saya persembahkan untuk kyai. Perjuangan kyai dengan adanya resolusi jihad sampai 10 November merupakan kontribusi kyai dari warga Nahdliyyin yang sangat besar. Dari situ ide membuat pameran lukisan keluar," ungkap perempuan lulusan arsitek ini.
Oleh karena itu Nabila berharap dalam pameran lukisan masyarakat bisa menghargai dan mencintai tauladan para kyai, termasuk juga Gus Dur yang berani mengambil keputusan demi kepentingan yang lebih besar.
"Pesan dan harapan saya dalam pemeran ini agar kita semua mencintai orang-orang baik, mencintai ulama, mencintai NU, mencintai bangsa dan negara Indonesia dan mencintai orang tua," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari