Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Barang Pecah Belah dari Dinasti Ming Favorit Kolektor Barang Antik, Hasil Pengangkatan Harta Karun dari Sungai Musi

Rahmat Sudrajat • Jumat, 18 Oktober 2024 | 15:55 WIB
BARANG JADUL: Marsidi, pemilik toko Joyo Chotdeng Vintage merapikan barang pecah belah koleksinya di Pasar Nostalgia Bratang, Surabaya, Kamis (17/10).
BARANG JADUL: Marsidi, pemilik toko Joyo Chotdeng Vintage merapikan barang pecah belah koleksinya di Pasar Nostalgia Bratang, Surabaya, Kamis (17/10).

RADAR SURABAYA - Barang antik saat ini banyak penggemarnya. Mulai untuk koleksi, dekorasi hingga dijual kembali.

Se;ain memiliki nilai seni dan ekslusivitas, nilai sejarah dibaliknya juga menjadi alasan tersendiri bagi kolektor.

Seperti barang antik pecah belah yang mempunyai market sendiri dihati para pencinta barang kuno.

Di Pasar Nostalgia, Bratang, Surabaya barang antik yang paling tua usianya dan unik paling banyak diburu oleh penggemarnya.

Penggemar barang antik pecah belah tidak hanya kolektor saja namun juga penikmat yang biasanya menjadikan barang pecah belah ini untuk dipajang di kafe, penginapan hingga rumah.

Seperti di toko Joyo Chotdeng Vintage milik Marsidi ini, barang yang dia jual mulai tahun 1600-an.

Barang antik berupa mangkok dari Dinasti Ming, Tiongkok pun dia jual.

Selain itu ada pongidon asal Ceko yang zaman dulu digunakan untuk buang air besar atau sejenis pispot. Namun fungsinya saat ini bisa digunakan sebagai vas bunga.

"Barang yang paling tua ada dari tahun 1600-an yaitu mangkok dan ada juga tahun 1900-an dari piring satu set," ujar Marsidi, Kamis (17/10).

Dia mendapatkan barang ini dari Palembang. Karena di Sungai Musi masih banyak harta karun berupa barang antik yang ditemukan di dasar sungai.

Barang tersebut mempunyai nilai sejarah sehingga bagi kolektor sepertinya menjadi sangat berharga.

"Kalau barang yang biasa saya dapat dari Sungai Musi. Karena banyak orang yang menyelam untuk mendapatkan harta dari dasar sungai," terangnya.

Dia juga mengaku barang antik yang masih dimiliki berasal dari Eropa seperti Belanda, Inggris, hingga Prancis. Selain itu juga ada barang yang berasal dari Tiongkok maupun Jepang.

"Ada gelas kaki juga, gelas sloki untuk minum arak maupun gelas yang digunakan untuk minum teh yang menjadi tradisi orang Jepang," imbuhnya.

Rata-rata pelanggan yang kerap membeli barang antik pecah belah merupakan kolektor dan penikmat dari berbagai daerah di Indonesia.

"Ya yang beli biasanya kolektor, maupun penikmat yang hanya menikmati barang antik pecah belah kemudian dipajang untuk dekorasi maupun di lemari prongkas," terang pria yang juga guru seni rupa ini.

Untuk harga jangan khawatir, Marsidi mengaku tidak semua barang antik mempunyai harga yang mahal.

Untuk harga barang antik pecah belah biasanya dia jual antara 20 ribu sampai Rp 1 juta per itemnya.

"Seperti gelas sloki yang kecil ini hargnya Rp 20 ribu per itemnya. Sedangkan untuk piring satu set Rp 1,2 juta," ungkapnya.

Untuk merawat barang antik ini, menurutnya cukup dibersihkan setiap hari untuk mengurangi debu yang menempel.

Bahkan untuk barang yang dijual pun harus tidak boleh ada kecacatan.

"Kalau cacat harganya (barang, Red) bisa lebih murah. Karena kolektor sendiri carinya yang bersih dan tanpa cacat," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#sungai musi #barang antik #surabaya #Pasar Nostalgia #Bratang #dinasti ming