Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ini Penyebab yang Sering Bikin Gen Z Mudah Depresi, Jangan Disepelekan!

Rahmat Sudrajat • Kamis, 17 Oktober 2024 | 13:10 WIB
BUTUH PENANGANAN: Ilustrasi. Menyendiri merupakan salah satu perilaku dalam gejala depresi.
BUTUH PENANGANAN: Ilustrasi. Menyendiri merupakan salah satu perilaku dalam gejala depresi.

RADAR SURABAYA – Masalah kesehatan mental menjadi topik yang Tengah hangat diperbincangkan beberapa waktu belakangan ini.

Maraknya kasus perundungan, bunuh diri, hingga depresi menjadi beberapa dampak dari rawannya masalah kesehatan mental, khususnya pada anak muda.

Kekhawatiran terhadap kesehatan mental di Indonesia tahun 2024 mencapai 44 persen. Jika dibandingkan dengan tahun lalu meningkat 36 persen.

Sementara itu, dari data Indonesian National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) satu dari tiga remaja usia atau Gen Z pada usia 10-17 tahun di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental.

Penyebab utama stres dan depresi pada remaja mayoritas disebabkan oleh banyak faktor.

Menurut psikolog sosial, Ananta Yudiarso, faktor yang paling banyak disebabkan tekanan sosial serta media sosial.

Gen Z yang lahir di era media sosial menjadi rentan karena terus menerus terpapar kehidupan ideal yang diposting oleh orang lain di media sosial.

Hal ini menurutnya menciptakan tekanan perbandingan sosial yang konstan dan perasaan yang tidak cukup baik, terutama dalam hal penampilan fisik, popularitas, dan pencapaian hidup.

Kemudian lanjut Ananta, tekanan akademik di sekolah dan karier di dunia kerja yang mengharuskan harus perfeksionis.

"Gen Z sering kali merasa harus mencapai standar yang tinggi dalam kehidupan akademik, terlebih dalam mengejar karier di usai yang sangat mudah. Tuntutan untuk sukses, mencapai impian dan menciptakan kehidupan sempurna. Hal inilah yang membuat kadang anak muda pun menderita stress maupun depresi jika tak kesampaian dalam mengejar cita-cita," katanya, Rabu (16/10).

Ananta juga menyebut gangguan psikologi dan depresi di kalangan Gen Z lebih cepat mengalami peningkatan.

Bahkan tingkat depresi klinis dan gangguan kecemasan di kalangan Gen Z tidak terdeteksi atau kurang terkelola. Oleh sebab itu tak jarang dari keluarga yang kurang mendukung.

"Tidak semua Gen Z memiliki akses pada terapi, konseling, atau layanan kesehatan mental lainnya, terutama di wilayah yang sumber daya kesehatannya terbatas. Apalagi mereka yang tumbuh di keluarga yang tidak memberikan dukungan emosional," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur RS Jiwa Menur, drg Vitria Dewi mengatakan, jumlah kasus depresi yang mendapatkan penanganan sejak Januari -Agustus 2024 hanya 3 persen.

Sedangkan gangguan mental 10 persen dan gangguan kecemasan mencapai 7 persen.

Dia juga menjelaskan tanda-tanda gangguan mental seperti stres maupun depresi lebih pada pola penurunan produktivitas, kehilangan motivasi, kelelahan kurang energi hingga perubahan pola tidur dan makan.

"Jadi gangguan mental itu penyebabnya stress berlebih. Nah pasien kunjungan kami yang mengalami depresi hanya 3 persen. Sedangkan gangguan mental 10 persen dan gangguan kecemasan mencapai 7 persen," tutur drg. Vitria.

Drg Vitria juga menyebut depresi dan kecemasan mempunyai kontribusi besar pada beban gangguan kesehatan mental.

Bahkan Gen Z saat ini harus kita pahami sebagai generasi yang telah menjalani hidup dalam ketidakpastian.

Oleh karena itu, perlu kita berikan motivasi dan tidak boleh melakukan stigma bahwa Gen Z sebagai generasi yang lemah.

"Kita tidak boleh memberikan stigma negatif pada Gen Z. Meski banyak tekanan akibat perubahan sosial dan teknologi yang sangat cepat. Kita harus berikan dukungan penuh seperti memfasilitasi apa saja yang menjadi harapan Gen Z," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#psikolog #Bunuh Diri #depresi #kesehatan mental #Gen Z #Perundungan #remaja