RADAR SURABAYA – Perpustakaan selayaknya memang sebagai tempat menyimpan koleksi buku, arsip, dan surat kabar.
Selama ini kebanyakan perpustakaan dikelola oleh pemerintah maupun lembaga pendidikan.
Namun, berbeda dengan perpustakaan yang ada di Jalan Medayu Selatan Gang IV, Nomor 42-44, Medokan Ayu, Rungkut, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya ini.
Perpustakaan ini awalnya milik pribadi dan kemudian dikelola oleh Yayasan Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.
Meskipun perpustakaan milik yayasan, nemun koleksinya tak main-main.
Ada puluhan ribu buku-buku, arsip hingga surat kabar lama dan langka, bahkan di era Hindia Belanda.
Buku-buku terbitan sebelum tahun 1900-an hingga terbitan terbaru ada di rak yang tersusun rapi di Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.
Tak hanya itu, surat kabar tahun 1910, Medan Prijaji maupun Sin Po yang terbit tahun 1946 hingga surat kabar masa kini Radar Surabaya juga menjadi koleksi yang rapi di lantai dua perpustakaan pribadi milik Oei Hiem Hwie.
Perpustakaan tersebut kini diteruskan oleh penerusnya dari Yayasan Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.
Oei Hiem Hwie yang merupakan mantan wartawan Terompet Masyarakat tersebut mulai mengoleksi buku, surat kabar hingga majalah itu dari turun temurun kakeknya serta buku yang dia miliki dari dulu.
Menurut Ketua Yayasan Perpustakaan Medayu Agung Surabaya, King Gaudi, koleksi milik Oei Hiem Hwie memiliki ribuan buku-buku langka, mulai dari politik dalam negeri maupun internasional, sosial budaya, hukum, sejarah hingga agama.
Tak hanya itu, buku yang dianggap dilarang pada masa orde baru pun juga ada.
"Koleksi pak Hwie (panggilan Oei Hiem Hwie) banyak mulai dari buku sejarah hingga surat kabar ada juga. Buku terbitan sebelum 1900 juga sudah ada. Surat kabar tahun 1910 zaman Hindia Belanda juga ada di sini," ujar King Gaudi, Senin (7/10).
Dia menyebut untuk koleksi buku yang dimiliki oleh Hwie sudah mencapai 12 ribu lebih.
Selain itu juga ada koleksi foto mencapai 600 foto yang sudah terpajang di pigora.
"Koran sebelum dipunyai negara, pak Hwie sudah ada. Koleksi-koleksi ini dari kakeknya secara turun temurun yang kemudian disimpan dengan rapi," imbuhnya.
Meski mengoleksi ribuan buku, namun menurutnya tidak semulus yang dibayangkan. Karena ada buku yang dilarang, dan menimbulkan polemik.
"Ya ada memang karena kan buku yang dikoleksi memang ada yang kiri dan kanan tapi itu hal yang biasa. Karena kita tujuannya untuk memberikan ilmu pengetahuan lewat buku," ungkap King Gaudi.
Dia mengaku, eksisnya koleksi di perpustakaan dimulai tahun 2001, karena saat ini bangsa Indonesia khususnya generasi mudanya kurang mendapatkan kesadaran berbangsa dan bernegara dan memahami ketatanegaraan.
"Ya kami melihat saat ini kurang ada pengajaran tentang kesadaran berbangsa dan bernegara dan memahami ketatanegaraan. Literasi ini sangat penting untuk ke depannya," harapnya.
Dia pun memberi contoh saat ini banyak orang yang pandai mengkritisi namun, selalu tidak ada solusi karena kurangnya membaca buku.
"Kalau mau mengkritisi negara dituntut ada solusinya itu bisa dengan membaca buku. Kalau sekarang mengkritisi terus," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari