RADAR SURABAYA - Keseringan bermain gadget bagi anak usia 1-6 tahun ternyata dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Antara lain bisa menyebabkan stunting karena lupa makanan hingga asupan gizi yang kurang, speech delay (keterlambatan berbicara), autisme, hingga IQ yang lemah.
Psikiater Konsultan Anak dan Remaja, RS Jiwa Menur Surabaya, Ivana Sajogo mengatakan, anak yang kecanduan gadget rata-rata malas dalam belajar hingga melakukan aktivitas lainnya.
Sehingga mereka fokus untuk melihat pada gadget daripada untuk melakukan aktivitas lainnya.
Pasien anak-anak yang kecanduan gadget tidak datang langsung dengan permasalahan akibat gadget, namun mereka terlebih dahulu mempunyai perilaku yang agresif dan impulsif.
Setelah dilakukan asesmen terhadap pasien baru diketahui penyebab utamanya.
"Mereka yang kecanduan gadget pegang pensil aja susah dan malas. Karena pegang pensil butuh tekanan. Beda dengan ketika mereka pegang handphone yang tinggal disentuh saja. Akhirnya banyak permasalahan yang terjadi akibat dari kecanduan ini, IQ yang lemah, speech delay hingga mempengaruhi tumbuh kembang anak lainnya," terang Ivana, Rabu (2/10).
Yang harus dilakukan ketika ada permasalahan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak akibat gadget.
Ivana mengaku, perlu dilakukan asesmen dan terapi untuk merangsang sensor motorik pada anak.
Karena pada usia 1-6 tahun yang penting adalah kognitif berdasar pada sensor motoriknya.
"Ya, jadi kami asah psikomotoriknya dengan memberikan terapi yang dilakukan oleh petugas kesehatan RSJ Menur seperti memegang bola kecil dan besar. Kemudian jalan di atas balok titian, masuk di dalam terowongan," ujarnya.
Lebih lanjut dia menuturan, penyebab delay belum diketahui secara jelas karena bisa jadi karena autisme disorder maupun karena kasus pada proses persalinan yang terdapat infeksi sampai pada kondisi kejang-kejang.
"Jadi delay ini hanya sistem yang muncul pada keterlambatan tumbuh kembang anak melalui diagnosa. Nah, itu yang kita terapi," kata Ivana.
Ivana juga menegaskan kecanduan gadget disertai IQ yang dibawah rata-rata mempunyai masalah yang besar terhadap pola tumbuh kembang anak.
Sehingga tidak bisa normal 100 persen jika tidak segera ditangani.
Sehingga perlu peran orang tua untuk mengajak anaknya berkomunikasi.
Karena komunikasi sangat penting, agar tidak ada penyimpangan yang dilakukan oleh anak-anak yang biasanya dialami ketika orang tua jarang memperhatikan maupun mengajak ngobrol.
Rata-rata Ivana menyebut ketahuan permasalahan pada tumbuh kembang anak terjadi saat si anak sudah memasuki usia sekolah.
Seperti mengalami speech delay dan tertinggal pelajaran karena IQ yang dibawah rata-rata.
"Anak-anak yang berperilaku menyimpang ini jarang diajak berbicara oleh orang tua. Memang tidak mudah, apalagi orang tuanya sibuk mencari nafkah. Tapi perlu ambil waktu sejenak untuk buah hati agar keinginan bisa didengar dan diperhatikan dan yang terpenting orang tua bisa mendeteksi sejak dini tumbuh kembang anak," tegasnya.
Seperti diketahui, sebelumnya dari data Poli Jiwa dan Remaja Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya interval kunjungan berobat sejak Januari-Juni 2024 mengalami peningkatan mencapai 3.000 pasien.
Sedangkan untuk psiko terapi atau terapi dengan psikolog mencapai 1.200 yang mayoritas kasusnya karena usia kembang anak. Pasien tersebut berasal dari Surabaya dan sekitarnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari