RADAR SURABAYA - Puluhan lukisan terpajang di ruang bawah tanah Alun-Alun Surabaya di kompleks Balai Pemuda, Selasa (24/9). Lukisan tersebut merupakan karya para guru seni budaya se-Jawa Timur yang dipamerkan dalam rangka memperingati Hari Aksara Internasional yang juga sebagai Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap 8 September.
Pemeran lukisan tersebut bertema Rupa-Rupa Aksara dengan tema ini diharapakan mampu mengingatkan kita pada literasi yang akhir-akhir ini menjadi gerakan budaya.
Menurut ketua panitia Rupa Rupa Aksara, Choy Irul, berbagai karya pameran seperti Negeri Dongeng, Sang Menpan hingga Penari Selfie merupakan karya para guru seni budaya se-Jawa Timur.
Pameran ini sebagai bentuk karya literasi kreatif yang digunakan untuk menyampaikan informasi.
"Literasi biasanya diterjemahkan dengan membaca dan menulis, namun pada kesempatan pameran kali ini guru seni budaya Jawa Timur ingin menunjukkan bahwa dengan melalui unsur dan prinsip seni rupa yang terbingkai menjadi konsep dan simbol-simbol dalam berkarya seni rupa juga merupakan literasi kreatif yang berfungsi sebagai sarana menyampaikan informasi, serta mengkomunikasikan ide dan gagasan," kata Choy.
Choy menyebut ada 49 karya lukisan yang dibuat para guru SMA tersebut. Pada guru juga ingin menunjukkan karyanya kepada murid yang diajarnya.
Karena selama ini guru terkesan mempunyai teori dalam berkesenian.
Agar tidak berteori, guru kesenian harus mampu menunjukkan eksistensi dalam melukis.
"Ini (pameran, Red) menjadi langkah baik yang mengantarkan para guru seni budaya untuk menunjukkan eksistensinya dalam profesi ganda yaitu sebagai seorang pengajar dan seorang perupa, maka guru seni budaya harus senantiasa mengembangkan diri pada kompetensi dan kreatifitasnya, serta mampu menjadi pemantik dan mengantarkan peserta didik agar bisa memunculkan ekspresi dan kreativitasnya," terangnya.
Sesuai dengan karakteristik Kurikulum Merdeka yakni mengembangkan soft skills dan karakter, maka pada kegiatan pameran ini juga diharapkan mampu menginspirasi dan memotivasi para pengajar seni budaya dan para peserta didik untuk terus menggali potensi dan aktif berkreasi menciptakan karya seni rupa yang berkualitas.
Dia juga berharap pameran ini mampu mengungkapkan apa yang dipikirkan para guru seni dan budaya dalam bentuk apresiasi seni, baik berupa tulisan maupun karya seni.
"Hari Aksara Internasional yang ditujukan untuk menghargai pentingnya literasi dalam kehidupan manusia dan mendorong akses yang lebih baik dalam pendidikan bagi semua orang di seluruh dunia ini. Jadi sebuah ungkapan sekaligus apresiasi seni," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari