RADAR SURABAYA - Banyak cara untuk menciptakan sebuah karya busana yang fashionable.
Salah satunya dengan menggunakan kain perca yang selama ini dibuang begitu saja.
Namun ditangan Fiona Jeannice Sutedja, kain perca menjadi koleksi busana ready to wear.
Mahasiswa jurusan desain fashion dan tekstil ini mengaku, saat ini banyak kain perca yang berasal dari limbah fashion yang sangat besar sehingga dia memanfaatkan untuk membuat busana.
"Ceritanya saya dulu sempat magang di salah satu brand fashion. Nah, banyak kain perca yang terbuang dan hanya menjadi limbah. Saya pun berinisiatif untuk membuat busana ready to wear," ujar Fiona, Selasa (3/9).
Kain perca beraneka warna diramu Fiona dengan komposisi warna yang pas agar serasi.
Dia sempat mengalami kesulitan sehingga harus menggunakan teknik roda warna.
"Ya sulit karena banyak warna, apalagi kalau dijadikan satu komposisi cukup susah, jadi pakai roda warna," ungkapnya.
Selain itu dia juga menggabungkan dengan kain denim. Yang menurutnya kain denim, saat ini menjadi tren.
Busana tersebut menurutnya cocok untuk usia 20-35 tahun dan memiliki minat pada fashion modern nan unik.
"Konsepnya memadukan teknik patchwork dan unfinished fabric untuk menciptakan produk fashion yang berkelanjutan dan estetik,” jelasnya.
Selain menggunakan kain perca untuk koleksi busananya, mahasiswa Petra Christian University (PCU) Surabaya ini juga membuat tas, topi, dan pouch.
Fiona mengaku, untuk satu kardus kain perca bisa menghasilkan enam koleksi.
"Biasanya saya ambil secara random karena banyak motif dan warna," tuturnya.
Oleh karena itu, dia berharap di tengah perkembangan industri fashion juga menghadapi masalah serius terkait limbah agar dapat diolah dengan baik agar tidak mengancam lingkungan.
"Karena jika tidak diolah, dapat mengancam lingkungan, terutama bahan seperti nilon dan poliester yang sulit terurai," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari