BBKK SURABAYA: Mpox Bisa Lebih Parah Menyerang Tubuh jika Mempunyai Riwayat HIV/AIDS

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Senin, 2 September 2024 | 19:49 WIB
NGERI: Gejala mpox yang perlu diwaspadai munculnya demam di atas 38 derajat Celcius, ruam, lesi atau keropeng kulit di wajah, telapak tangan dan kaki, serta alat kelamin. (IST/GETTY IMAGES)
NGERI: Gejala mpox yang perlu diwaspadai munculnya demam di atas 38 derajat Celcius, ruam, lesi atau keropeng kulit di wajah, telapak tangan dan kaki, serta alat kelamin. (IST/GETTY IMAGES)

RADAR SURABAYA - Badan kesehatan dunia WHO telah menetapkan kasus Mpox atau cacar monyet sebagai situasi darurat dan menjadi perhatian internasional atau publik health emergency of internasional concern (PHEIC) sejak 14 Agustus lalu.

Setiap negara diminta untuk melakukan langkah antisipatif terhadap perkembangan kasus Mpox.

Khusus di Indonesia, sudah terdeteksi 14 kasus Mpox sejak Januari-April 2024. Secara kumulatif sejak 2023-2024, sebanyak 88 kasus Mpox yang ada di Indonesia. Sedangkan di Jawa Timur ditemukan ada 3 kasus pada tahun lalu.

Sebagai strategi pengendalian kasus Mpox agar tidak meluas, perlu dilakukan vaksinasi. Sejauh ini vaksinasi Mpox secara nasional dilakukan secara terbatas dan tidak untuk masyarakat.

Ketua Tim Kerja Surveilans Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya, dr. Rofiud Darojat menjelaskan, kebijakan pemberian vaksin ditujukan kepada kelompok yang mempunyai risiko. Seperti pasangan seks sesama jenis maupun multiple. Pasalnya, virus Mpox mudah terserang ketika berhubungan seksual sesama jenis.

"Cara peneluran lewat seksual, secara epidemiologis kebiasaan seksual suka sesama jenis, pemberian vaksinnya dilakukan pada pasangan seksualnya," kata dr. Rofiud, Senin (2/9).

Selain itu, pemberian vaksin juga diberikan kepada tenaga kesehatan yang merawat pasien Mpox serta tenaga laboratorium yang melakukan pemeriksaan spesimen, terutama di daerah yang terdapat kasus Mpox. "Juga orang yang kontak langsung dengan penderita Mpox harus divaksin," imbuhnya.

Terkait vaksin Mpox untuk anak-anak, dr. Rofiud mengatakan belum ada rekomendasi secara masal untuk dianjurkan dalam sasaran vaksin Mpox.

"Sifatnya bagi kelompok yang kontak langsung untuk pencegahan. Termasuk 88 kasus yang terjadi di Indonesia, itu termasuk kelompok yang terdiagnosa sudah dilakukan vaksinasi," terangnya.

Jenis Vaksin yang dilakukan di Indonesia berdasarkan rekomendasi dari WHO adalah MVA-BN atau Modified Vaccinia Ankara-Bavarian Nordic.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa semua usia rentan untuk terpapar virus Mpox baik dewasa bahkan anak-anak bisa tertular lewat cairan dari penderita Mpox.

"Semua usia rentan (tertular) sebetulnya. Anak-anak juga bisa kena lewat cairan dari bintik-bintik penderita Mpox. Tapi yang rentan dewasa yang kontak seksual langsung," ungkapnya.

Untuk masa penyembuhan, dr. Rofiud memastikan tergantung daya tahan tubuh setiap orang. Apalagi jika orang tersebut mempunyai penyakit HIV/AIDS maka akan lebih parah. "Jika orang tidak mempunyai penyakit penyerta dan daya tahan tubuhnya kuat, ya bisa sembuh sendiri," jelasnya.

"Jadi masa penyembuhannya (Mpox, Red) tergantung tiap orang. Yang paling rawan jika daya tahan tubuh lemah, misal punya riwayat HIV/AIDS, maka akan lebih parah Mpox-nya," paparnya.

Penyebaran Virus Mpox melalui hubungan seksual ini terutama terjadi pada sesama jenis. Mereka kontak langsung dan terkena cairan bintik-bintik dari penderita.

Gejalanya demam tinggi hingga muncul bintik. "Munculnya bintik bisa di wajah, tangan, kalau kontak seksual bisa di alat kelamin," ujarnya.

Oleh karena itu dr. Rofiud mengimbau khususnya pelaku perjalanan luar negeri harus menjaga diri dan menghindari orang yang mengidap penyakit Mpox. Kemudian, melakukan PHBS atau pola hidup bersih dan sehat, serta meningkatkan daya tahan tubuh.

Virus Mpox diketahui pertama kali muncul pada tahun 1970 yang ditemukan di manusia. Ketika itu hampir seluruh negara melaporkan kasus tersebut. (rmt/jay)

Editor : Jay Wijayanto
Vaksinasi cacar monyet mpox balai karantina kesehatan surabaya virus