Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pentingnya Imunisasi untuk Bayi dan Anak bersama dr. Marissa Pudjiadi, SpA dan Doodle Exclusive Baby Care

Jay Wijayanto • Senin, 12 Agustus 2024 | 20:21 WIB
Dokter spesialis anak dan konsultan kesehatan, dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A.
Dokter spesialis anak dan konsultan kesehatan, dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A.

RADAR SURABAYA–Imunisasi adalah upaya untuk meningkatkan kekebalan imunititas si kecil secara aktif dengan cara memaparkan antigen atau virus yang sudah dilemahkan sehingga si kecil memiliki kekebalan tanpa harus melewati periode sakit.

Seberapa penting imunisasi diberikan dan apa saja kebaikan yang diberikan saat pemberian imunisasi? Berikut penjelasan bersama Doodle Exclusive Baby Care.

Kepada Doodle Exclusive Baby Care, dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A mengatakan bahwa banyak manfaat yang dirasakan saat pemberian imunisasi. Dalam hal ini tanpa sakit terlebih dahulu tetapi imunitasnya tinggi terhadap penyakit tertentu secara spesifik.

"Walaupun tidak sakit, tetapi memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu yang dinamakan imunisasi atau vaksinasi. Dengan imunisasi jika ada kuman yang masuk, maka badan kita sudah siap," katanya.

Lebih jauh ia memaparkan bahwa dalam imunisasi mengandung antigen bagian dari virus atau bagian dari kuman bahkan kuman itu sendiri yang sudah dilemahkan, atau bagiannya jadi tidak menimbulkan sakit yang hebat seperti jika bayi terpapar penyakit itu sendiri.

"Kalau misalnya terpapar dengan penyakit, prajuritnya sudah mengenal jika ada kuman yang masuk. Tetapi kuman yang pertama dengan imunisasi masuk karena kumannya kecil jadi tidak sakit, karena ketika kuman masuk bisa melawan. Bisa ketika kuman masuk tidak sakit sama sekali atau ketika kuman masuk tetap kena tetapi bentuknya sangat ringan,” terang dr. Marissa.

Dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bina Medika Bintaro ini menjelaskan bahwa imunisasi bisa dilakukan sejak usia lahir atau nol bulan sampai usia 18 tahun, kemudian dilanjutkan ke usia dewasa. Jadi vaksinasi hingga dewasa selalu ada.

Dari sejak lahir diberikan vaksinasi pertama hepatitis B, kalau ibu-ibu jaman dulu namanya vaksin Bacillus Calmette Guerin (BCG) mungkin karena negara kita masih endemis akan tuberkulosis (TB).

Jadi kalau zaman dulu memang benar diberikan mulai usia baru lahir hingga 2 bulan boleh diberikan. Tetapi apabila di sekeliling tidak ada faktor risiko benar-benar positif tuberkulosis (TB), itu diberikan antara lahir hingga 2 bulan. Biasanya usia 1 bulan diberikan, tetapi dalam waktu 24 jam harus diberikan adalah hepatitis B yang pertama.

“Imunisasi banyak macamnya kalau yang di Indonesia yang wajib diberikan diantaranya Difteri, Pertusis, Tetanus (DPT), Hepatitis B, Polio, Bacillus Calmette Guerin (BCG), Campak, Rubela dan sekarang pemerintah juga memasukan Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) dan Rotavirus. Untuk itu, moms janga  kuatir vaksinasi ini tidak hanya diberikan di Rumah Sakit besar saja tetapi sekarang diPuskesmas sudah diberikan secara gratis,”ungkapnya lagi.

Wanita yang berprofesi sebagai Dokter Spesialis Anak ini mengutarakan bawah imunisasi ada yang bisa menimbulkan efek samping namanya juga diberikan antigen, otomatis badan akan kaget yang masuk kedalam tubuh.

Pada saat pembentukan antibody bisa terjadi reaksi antigen antibody dengan reaksi seperti demam, bengkak atau pegal-pegal diarea suntikan yang biasa disebut dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Hal ini normal dan biasa terjadi sekitar 24 jam pasca penyuntikan atau anaknya menjadi lebih rewel, menangis bahkan ada malah tidurnya menjadi lebih pulas meskipun ada yang reaksinya lebih berat.

“Kalau menimbulkan reaksi ringan seperti menangis, rewel, demam itu moms dan paps tidak perlu kuatir, hal ini memang normal terjadi hak ini dikarenakan pembentukan antibody si kecil. Tetapi jika reaksi alergi yang lebih berat segera menginfokan ke dokter spesialis. Untuk itu, setiap imunisasi pertama selama 15 menit pasca penyuntikan jangan langsung buru-buru pulang, lakukan pemantauan diRumah Sakit, Puskesmas, Posyandu supaya ketika terjadi reaksi alergi atau sifatnya lebih berat bisa langsung ditangani. Tetapi ketika penyuntikan kedua maupun ketiga umumnya tidak ada terjadi. Jika memang ada untuk imunisasi berikutnya menggunakan vaksin yang lain. Tetapi reaksi yang berat ini sangat jarang terjadi umumnya reaksi ikutannya biasanya hanya demam, rewel yang terjadi 24 jam pasca penyuntikan,” jelasnya.

Apa yang harus diperhatikan saat imunisasi? Dokter yang berdomisili di Bintaro ini mengungkapkan hal yang perlu diperhatikan saat imunisasi ketika 15 hingga 30 menit pasca penyuntikan imunisasi jangan buru-buru pulang. Karena bisa saja terjadi reaksi alergi dari penyuntikan seperti alergi terhadap alergennya, alergi terhadap zat pembawanya.

“Kalau itu terjadi masih diRumah Sakit umumnya dokter bisa langsung bisa mengatasi. Tetapi jika buru-buru pulang, mungkin akan telat reaksi untuk menolongnya jadi sudah terlambat, tetapi jika masih di RS bisa langsung tertangani dan pasti selamat. Untuk itu ketika imunisasi pertama jangan langsung pulang tunggu 15 hingga 30 menit pasca penyuntikan,” katanya.

Lebih lanjut, wanita yang disapa dengan nama Marissa ini mengatakan bahwa secara rekomendasi, imunisasi boleh dilakukan secara bersamaan. Karena memang ada beberapa vaksin yang merupakan vaksin combo seperti Difteri, Pertusis, Tetanus (DPT), Vaksin Haemophilus influenzae tipe B (HIB), Polio, Hepatitis B, yang boleh diberikan secara bersamaan.

"Sehingga tidak perlu kuatir, untuk meminimalisir adanya reaksi alergi tunggu di rumah sakit 15 hingga 30 menit pasca penyuntikan. Reaksi alergi ini tidak mungkin terjadi belakangan. Kalau memang 15 hingga 30 menit pasca penyuntikan tidak terjadi apa-apa maka akan aman," paparnya.

Lantas kondisi yang seperti apa bayi diperbolehkan imunisasi? Dokter bernama lengkap Marissa Pudjiadi ini mengatakan kalau bayi dalam keadaan sehat tentu sangat diperbolehkan. Tetapi kalau ada batuk pilek ringan, demam ringan, dan batuk pilek masih diperbolehkan.

"Yang tidak boleh ketika bayi demam tinggi di atas 38 derajat celcius, sebaiknya dipantau terlebih dahulu. Atau ketika bayi dehidrasi juga tidak diperbolehkan," katanya.

Untuk bayi dengan batuk pilek ringan dan demam ringan diperbolehkan imunisasi sambil dipantau dan diberikan obat. Yang perlu diperhatikan saat pemberian imunisasi diusahakan tepat waktu supaya pembentukan antibody-nya ideal.

Di akhir wawancara, dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A berpesan bahwa imunisasi sudah terbukti memberikan kekebalan secara spesifik terhadap berbagai penyakit.

Untuk itu, moms dan paps tidak perlu kuatir dan ragu memberikan bayi dan anak-anak imunisasi. Karena memang sudah terbukti menghilangkan eradekasi penyakit sesuai dengan spesifik imunisasi yang diberikan. Sehingga disarankan melakukan imunisasi lengkap karena tidak bisa satu jenis imunisasi untuk semua penyakit. (*/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#imunisasi #Bayi dan Anak #doodle exclusive baby care #virus