RADAR SURABAYA - Saat ini media sosial tengah gaduh karena berita simpang siur yang mengutip bahwa susu UHT (ultra high temperature) yang disukai anak-anak bisa meningkatkan risiko diabetes dan gagal ginjal pada anak.
Menanggapi hal ini, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), mengklarifikasi berita tersebut lewat unggahan Instagram pribadinya, Senin (6/8).
Baca Juga: Jawa Timur Siap Pasok Susu Segar ke Ibu Kota Nusantara
Piprim menegaskan bahwa penyebab meningkatnya diabetes pada anak bukan karena mengonsumsi susu UHT, melainkan gaya hidup yang tidak sehat.
“Padahal yang dimaksud adalah diabetes tipe 2 yang mulai banyak terjadi pada anak remaja disebabkan gaya hidup yang tidak sehat, termasuk pola makan yang banyak asupan ultraprocessed food, tinggi gula dan zat tambahan lainnya,” kata dr. Piprim membantah rumor tersebut.
Diketahui diabetes tipe 2 adalah kasus yang sangat umum terjadi di Indonesia.
Terdapat lebih dari 2 juta kasus per tahun di negara ini, dan kondisi ini terjadi saat tubuh tidak cukup memproduksi insulin atau menolak insulin.
Dalam hal ini, dr. Piprim menghimbau untuk para orang tua memperbanyak asupan real food dan membatasi konsumsi susu sehari 200 ml saja.
“Perbanyak real food seperti ikan, ungas, daging dan telur. Susu jangan dianggap superfood sehingga ada yang memberi anaknya susu sampai 8-10 botol sehari, batasi saja 200 ml sehari,” lanjut dr. Piprim.
Sebelumnya, dalam wawancara bersama awak media di Peringatan Hari Anak Nasional (23/7), IDAI sempat menyinggung kenaikan kasus diabetes serta gagal ginjal pada anak.
“Jangan dibiasakan anak-anak itu dengan ultraprocessed food sejak awal ya, apalagi junk food. Itu nanti macam-macam dampak kesehatannya, termasuk yang sekarang lagi heboh itu kena ginjal dan sebagainya. Saya kira mesti aware dengan pemberian makan pada anak-anak,” ujarnya.
Selanjutnya IDAI juga menjelaskan perihal meningkatnya jumlah anak pengidap diabetes tipe 1 yang mencapai 70 persen dalam rentang 2010-2023.
Baca Juga: Wali Kota Surabaya Siap Copot Kepala Sekolah Negeri yang Nekat Lakukan Tarikan
Sedangkan anak pengidap diabetes tipe 2 lebih disebabkan oleh gaya hidup.
Menurut dr. Piprim, peningkatan kasus diabetes anak tipe 1 karena saat ini orang tua sudah mulai waspada dan memeriksakan anaknya ke dokter. Hal ini membuat deteksi tenaga medis menjadi lebih bagus.
“Naik 70 persen. Masalah diabetes (anak) tipe 1 memang ada kenaikan, salah satu penyebabnya adalah deteksinya bagus,” tandas dr. Piprim. (bel/mag/nug)
Editor : Jay Wijayanto