Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Geliat Teater Anak di Surabaya di Tengah Minimnya Pementasan

Rahmat Sudrajat • Senin, 15 Juli 2024 | 16:05 WIB
TEATER ANAK: Sejumlah anak yang tergabung dalam kelompok teater Bengkel Muda Surabaya menggelar latihan jelang pementasan di sanggar yang terletak di kompleks Balai Pemuda Surabaya.
TEATER ANAK: Sejumlah anak yang tergabung dalam kelompok teater Bengkel Muda Surabaya menggelar latihan jelang pementasan di sanggar yang terletak di kompleks Balai Pemuda Surabaya.

SURABAYA - Teater anak di Surabaya saat ini masih kurang bergeliat, namun semangat anak-anak Surabaya untuk berlatih sangat tinggi.

Di tengah kurang bergairahnya pentas teater anak, mereka tetap berlatih. 

Seperti yang diperlihatkan dalam sebuah latihan di sanggar Bengkel Muda Surabaya, Minggu (14/7).

Dengan cerita legenda Sangkuriang mereka memerankan peran masing-masing, ada yang menjadi Sangkuriang maupun Dayang Sumbi.

Menurut sutradara dan pelatih teater, Heru Budiarto, cerita Sangkuriang memiliki pesan moral yang sudah diprediksi ke depannya.

Cerita ini mengisahkan seorang anak yang mencintai ibu kandungnya sendiri yang bernama Dayang Sumbi.

Namun Sangkuriang terlalu bernafsu tidak menggunakan nuraninya tetap ingin mencintai ibu kandungnya sendiri.

“Sebetulnya cerita ini mengkisahkan cerita terlarang secera eksplisit dan secara implisit ternyata memiliki pesan segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik, akan menimbulakan bencana dan musibah. Filososifnya begitu mengingatkan agar tidak berlebihan seperti juga berkuasa,” kata Heru.

Selama ini melatih anak-anak menurutnya harus memahami karakter dunia anak.

Karena mereka mempunyai dunia yang dinamis dan labil, setiap menit berubah sikap.

“Sebagai pelatih dan sutradara harus paham karakter anak-anak. Cuma harus punya prinsip dengan memberikan kedisiplinan,” terangnya.

Pria yang juga Ketua Umum Bengkel Muda Surabaya ini mengaku sampai saat ini teater anak di Surabaya masih belum mendapatkan tempat.

Meski muncul sanggar teater anak seperti Sanggar Alang-Alang hingga Sanggar Merah Putih namun menurutnya masih kurang hidup.

Berbeda dengan di Bandung, Jakarta maupun Yogyakarta, teater anak mendapatkan tempat dan masih eksis sampai saat ini.

“Saya amati di Surabaya sejak 1990 dulu pernah dibahas serius tentang perkembangan teater anak namun saat ini mulai menghilang,” tuturnya.

Eksistensi pentas teater anak menurutnya, hanya pada acara tertentu, seperti perpisahan sekolah.

“Kalau ada tampilan dari sekolah pada acara perpisahan,” ujar Heru.

Teater anak di Bengkel Muda Surabaya saat ini merupakan generasi kedua. Saat ini jumlah anggotanya mencapai 40-an anak. Menurut Heru, menghilangnya eksistensi teater anak karena kurangnya penggiat.

“Kalau sanggar teater anak lebih banyak dan hidup lagi akan semakin menarik. Surabaya akan menjadi barometer sebagai seni. Di Jakarta dan Bandung lebih menggeliat teater anak dibandingkan di Surabaya,” ungkap pria yang sudah bermain teater di tahun 1986 itu.

Oleh karena itu dia berharap dengan teater anak ini bisa dibangkitkan kembali dan lebih bergeliat.

Dengan memberikan dan membangun ruang imjinasi bagi anak-anak Surabaya agar tidak kehilangan sejarahnya, bahwa dulu pernah membumi teater di Surabaya.

“Sekarang kita mulai hidupkan lagi, kita estafetkan lagi. Semoga Agustus atau Oktober teater anak Bengkel Muda Surabaya bisa pentas,” harapnya.

Selain itu dirinya mempunyai cita-cita teater anak Bengkel Muda Surabaya bisa pentas keliling dan juga ada parade teater anak di Surabaya. “Perlahan kita mulai hidupkan lagi,” imbuhnya.

Teater anak pernah muncul melalui Bengkel Muda Surabaya sekitar tahun 1970-an menurut Heru, dulu yang memainkan anak remaja namun naskahnya menceritakan anak-anak.

“Dulu judulnya Jangan Menangis Ayo Menyanyi. Yang bemain anak-anak remaja tapi naskahnya bercerita anak-anak,” terangnya.

Sementara itu salah satu pemeran Dayang Sumbi, Tiara Galuh, mengaku yang paling sulit dalam bermain teater adalah membangkitkan mood

Jika mood kurang baik maka hilang peran dalam menjiwai suatu cerita.

Gadis kelas IX SMP ini sudah mengikuti latihan selama 10 bulan. Dia juga kerap berlatih di rumah terutama di depan cermin untuk menghayati peran di dalam teater.

“Sulitnya itu ketika mood itu hilang atau kurang baik. Jadi perlu dinetralkan. Apalagi menjadi Dayang Sumbi ibunya Sangkuriang sekaligus kekasinya, harus menjiwai menjadi seorang ibu yang lembut dan pun dengan kasih sayang,” ungkap Tiara.

Dia memiliki dorongan kuat bermain teater sejak kecil. Ketika itu dia diminta oleh ibunya untuk mengikuti beberapa latihan di sanggar seni, namun dia lebih memilih teater.

“Awalnya ibu saya yang nawari untuk memilih ikut menggambar atau teater, saya pilih teater,” terangnya.

Selain itu, Muhammad Sultan Fandi Sauki, pemeran Sangkuriang mengaku dengan mengikuti teater anak membuatnya lebih percaya diri (PD).

Dia sendiri telah setahun berlatih teater di Bengkel Muda Surabaya. Saat ini Sultan duduk di sekolah dasar (SD) kelas VI.

“Dulu saya takut dan malu kalau di depan orang, tapi setelah ikut teater lebih percaya diri apalagi sekarang dipercaya jadi tokoh utama yaitu Sangkuriang,” ujar Sultan. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#surabaya #Bengkel Muda Surabaya #sangkuriang #balai pemuda #Teater anak