SURABAYA – Kerajinan yang dibuat manual dengan tangan biasanya menghasilkan karya yang indah. Salah satunya yakni kerajinan rajut.
kerajinan rajut memang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Perajinnya pun juga tak banyak. Seperti Julanita Linasari. Dia membuat boneka, gantungan kunci hingga pouch rajut.
Boneka rajut buatan Julanita ini mengangkat tentang satwa yang dilindungi di Indonesia seperti harimau, rusa, anoa maupun orangutan.
Hal ini dilakukan untuk mengedukasi sekaligus memperkenalkan kepada anak-anak tentang flora dan fauna yang masih dilindungi dan beranekaragam.
"Awalnya saya buat boneka tentang ketokohan seperti Mickey Mouse kemudian Winnie The Pooh, tapi lambat laun saya berpikir harus membuat desain yang original. Akhirnya saya banyak terinspirasi dari hadirnya satwa yang dilindungi di Indonesia. Karena untuk mengedukasi dan memperkenalkan juga," terang perempuan 37 tahun ini.
Selain mengangkat karakter satwa lokal, Julanita juga menggunakan benang rajut ramah lingkungan.
Yakni dengan menggunakan bahan katun. Selain itu juga benangnya menggunakan pewarna alami.
Crochet toys designer ini menuturkan alasan menggunakan benang ramah lingkungan dengan bahan katun karena lebih aman untuk anak-anak.
Biasanya anak-anak suka membawa kemana-mana boneka rajutan buatannya itu seperti dibawa tidur.
"Benang yang saya buat untuk merajut ini sudah bersertifikasi dan ramah lingkungan. Jadi aman terutama bagi anak-anak," kata Julanita, Rabu (26/6).
Dia lebih banyak membuat boneka rajut karena banyak digemari.
Untuk membuat kerajinan rajut dibutuhkan waktu satu sampai tiga hari tergantung dari besar kecilnya dan tingkat kerumitannya.
"Kalau yang boneka kecil kan harus lebih detail jadi butuh waktu dua sampai tiga hari. Tapi yang boneka sederhana bisa sehari jadi," ungkapnya.
Harga yang dipatok pun bervariasi mulai Rp 45 ribu hingga Rp 250 ribu, tergantung dari ukuran, best seller maupun yang special edition.
Sedangkan pangsa pasarnya mulai dari anak-anak maupun dewasa. Bahkan karya kerajinan rajutnya sudah sampai ke luar negeri yakni Thailand dan Yunani.
"Kalau di Indonesia biasanya yang paling banyak diminati pembeli dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali. Kalua Surabaya sebagian saja," tutur owner Autumn Flower itu.
Dia juga menjelaskan untuk membuat kerajinan rajut ini masing-masing pola rajutan ada rumusannya.
Namun sejak mempelajarinya di tahun 2008 akhirnya dia berani untuk membuat brand tahun 2011 dan membuat desain boneka sendiri di tahun 2018. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari