Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Populerkan Warisan Budaya lewat Batik Ketitik Olo Ketoro

Rahmat Sudrajat • Senin, 17 Juni 2024 | 01:44 WIB
PAMERAN BATIK: Pengunjung mengamati lukisan batik dengan mengangkat tema Batik Ketitik Olo Ketoro, dipamerkan di Galeri DKS, Kompleks Alun-alun Surabaya, Minggu (16/6).
PAMERAN BATIK: Pengunjung mengamati lukisan batik dengan mengangkat tema Batik Ketitik Olo Ketoro, dipamerkan di Galeri DKS, Kompleks Alun-alun Surabaya, Minggu (16/6).

RADAR SURABAYA - Di tengah perkembangan zaman modern batik tidak hanya sebagai fungsi saja yang digunakan, namun batik juga sebagai teknik melukis yang mengungkap rasa dan mempunyai nilai tinggi dalam berkesenian.

Batik sendiri merupakan warisan budaya leluhur yang sampai saat ini mempunyai sifat adiluhung atau karya masa lalu yang mulia.

Seperti yang disuguhkan di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), puluhan lukisan batik dipamerkan.

Berangkat untuk mempopulerkan batik dikalangan anak muda maupun masyarakat, empat perupa asal Surabaya, Yogyakarta dan Magelang pun berbagi ungkapan rasa dan pemikiran yang dituangkan dalam lukisan batik.

Dengan mengangkat tema Batik Ketitik Olo Ketoro yang merupakan sebuah plesetan dari kalimat yang populer dan lekat dalam tradisi masyarakat Jawa yakni bahwa semua hal baik ataupun buruk akan terlihat. 

Konsep dan gagasan diatas juga dipadu-padankan oleh keempat perupa dalam mengolah laku berkeseniannya dengan seni batik.

Media dan teknik dalam seni batik menjadi alat dan bahasa ungkap dalam pameran seni lukis batik.

Salah satu perupa batik, Nur Hananta mengaku, seni lukis batik merupakan perkembangan batik dari tahun ke tahun harus bisa naik kelas.

Batik dulu sebagai ungkapan doa kemudian berkembang menjadi fungsi pakai yang saat ini nilainya sangat tinggi karena warisan leluhur.

"Dalam seni rupa kekinian Indonesia batik punya seni budaya yang indah dan go internasional," tutur Nur Hananta, Minggu (16/6).

Dia menyebut pameran ini sebagai ikhtiar mencari identitas di tengah hiruk pikuk seni rupa barat yang semakin dikenal dalam kehidupan berkesenian.

Bahkan dia mengaku seni lukis batik menjadi terapi jiwa yang membuat ketenangan. 

"Batik memang identik kuno, tapi saya merasakan tantangan ini. Karena batik itu merupakan meditasi. Contohnya saat mencanting kita harus mengatur nafas, mengintip emosi dalam proses panas dan dinginnya lilin waktu masuk ke kain. Jadi itu menurutku meditasi," ungkapnya.

Dia juga mengakui perkembangan batik di Yogyakarta dan Surabaya berbeda.
Di Yogyakarta batik sudah menjamah anak muda. Bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X selalu update perkembangan batik.

"Sultan saja membaca tentang proses dan perkembangan batik saat ini. Sebagai fungsi dan status sosial sekarang harus lebih tinggi," tuturnya.

Oleh karena itu dia berharap anak muda di Surabaya juga harus mencoba hal baru tentang batik agar lebih percaya diri.

"Nah dengan pameran ini kan bisa sebagai racun anak muda Surabaya untuk bisa lebih percaya diri terhadap batik. Saya rasa Kota Surabaya sebagai kota perdagangan dan industri jika batik dikembangkan akan lebih besar," imbaunya.

Sementara itu, perupa batik asal Surabaya, Agus Miki Prasetyo berharap pameran lukis batik dengan mengusung konsep Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) lebih dekat dan dikenali oleh anak muda Surabaya.

"Batik itu karya yang tidak serumit yang dibayangkan. Justru lebih simpel, karena melukis batik sesuai dengan selera yang ingin dituangkan," harap Agus Miki.

Dalam pameran melukis batik tersebut diikuti oleh perupa empat perupa ini yakni Agus Miki Prasetyo dari Surabaya, Nur Hananta dari Yogyakarta, Kaji Habeb dari Magelang dan Wanted Terorkota dari Magelang. Pemeran tersebut digelar hingga 18 Juni mendatang. 

Setelah di Surabaya mereka juga akan menggelar pameran di Yogyakarta dan Magelang. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#kesenian #surabaya #galeri dks #Batik #warisan budaya #pameran batik #teknik melukis