RADAR SURABAYA – Pandemi Covid-19 menjadi salah satu fase kehidupan kelam yang dialami banyak orang.
Akan tetapi itu semua mulai dilupakan seiring kembali normalnya kehidupan.
Ingin membuka ingatan akan pandemi Covid-19 dengan cara yang berbeda, perupa Agus Koecink menyajikan 100 lukisan yang mengangkat Tema Mimesis.
Lukisan-lukisan karya Agus Koecink tersebut dipamerkan di ruang bawah tanah Alun-Alun Surabaya hingga 31 Mei mendatang.
Mimesis sebagai edukasi dan apresiasi kepada alam semesta saat pandemi Covid-19.
Agus Koecink kembali membuka ingatan kita semua tentang pandemi Covid-19 yang berjalan selama kurang lebih tiga tahun lamanya.
Saat kondisi alam yang terhempas virus, banyak sahabat, saudara dan teman yang meninggal karena virus yang sampai sekarang masih menjadi misteri.
Menurut Agus Koecink, pameran ini merupakan pameran tunggal yang karyanya dibuat sejak tahun 2020-2023 ketika itu dunia sedang dilanda bencana pandemi Covid-19.
Dia lebih banyak berdiam diri di studio lukisnya dan berhadapan dengan alam sekitar seperti tumbuhan dan hewan yang menampakkan wujudnya.
Sedangkan manusia ketika itu tidak keluar rumah untuk meminimalisir terjangkitnya virus Covid-19.
"Idenya bahwa manusia peniru alam. Saya kerjakan pada saat Covid-19 yang banyak saya lakukan dengan berdiam sendiri di studio lukis saya. Kita berhadapan dengan pohon, tumbuhan dan hewan yang tidak kita amati dan sapa. Ini yang kemudian saya dijadikan sebagai seni dalam lukisan," kata Agus Koecink, Selasa (28/5).
Goresan lukisan melalui kontemplasi yang dia buat selama pandemi Covid-19 itu untuk membuka dan mengingatkan masyarakat terhadap lingkungan sekitar yang perlu disapa dan diperhatikan saat pandemi Covid-19.
Namun dia sebagai perupa memperhatikan kondisi alam sekitar dengan karya seni.
"Supaya publik melihat karya seni natural realisasi dekoratif. Sekarang kita ingin publik tahu bahwa lukisan yang sifatnya kontemporer betul-betul lahir ekspresi dari seniman ketika melihat alam," terangnya.
Dia memilih karya seni kontemporer karena terinspirasi dari fenomena atau peristiwa yang ketika itu terjadi, yakni pandemi Covid-19.
Agus Koecink pun mengaku karya lukis yang menjadi andalannya yakni meditasi atau doa hingga menyapa lingkungan alam sekitar.
"Karena saya melihatnya banyak yang menderita saat itu. Ketika itu banyak orang yang kembali mengingat akan tuhan dan berdoa minta keselamatan. Dengan adanya covid kita merasa kecil, hanya butiran debu," ungkapnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari