RADAR SURABAYA – Banyak cara untuk mengangkat sebuah isu dan menggambarkannya.
Khususnya dalam karya seni, seniman punya cara sendiri untuk menyampaikan suatu hal dan dapat dinikmati oleh khalayak umum.
Salah satunya seperti yang dihadirkan dalam pameran instalasi bertema From The River To The Liberty ini.
Mengangkat isu kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM), pameran ini digelar di Unicorn Young Collectors Club (UYCC) Art Gallery, Surabaya. Pameran tersebut berlangsung selama kurang lebih empat bulan.
Dalam pameran itu menghadirkan berbagai pesan terhadap kondisi kemanusiaan yang diakibatkan oleh perang antara manusia.
Seperti karya berjudul Adrenaline of Legacy yang dibuat oleh Ramadhan Arief bercerita tentang kisah tragis Qabil dan Habil dengan menyoroti awal mula konflik antar manusia terjadi.
Kisah tersebut dapat merefleksikan bahwa konflik yang terjadi selalu berpusat pada manusia. Hingga kematian menjadi suguhan setiap hari karena peperangan.
Karya milik seniman asal Yogyakarta itu juga merefleksikan tentang konflik berkepanjangan antara Israel dengan Palestina yang sejak abad 19 hingga sekarang tak kunjung usai.
"Jadi tema pameran tahun ini menyikapi perang Palestina yang tak kunjung usai. Peperangan Qabil dan Habil yang dulu terjadi dan sangat populer dalam cerita di agama Islam, Yahudi dan Nasrani,” tutur Ramadhan, Senin (4/3).
“Intinya selama manusia hidup peperangan bakalan terus ada. Kita menyikapi dengan melaraskan perbedaan itu," imbuhnya.
Ramadhan menggambarkan dalam karya instalasi dengan dua buah tengkorak sebagai wujud Qabil dan Habil.
Satu meninggal dan tidak ditemukan generasinya dan satu lagi generasi pembunuh yang selalu tumbuh.
Ia menggunakan media alumnium dengan teknik kenteng embos, yang sengaja tidak diwarna untuk memunculkan prespektif yang berbeda atau kilauan cahaya yang gelap terang yang bisa disikapi oleh orang yang melihatnya.
Ia juga menggambar sebuah rumah di bawah tengkorak itu. Rumah menurutnya sebuah hak yang semakin hari semakin kecil dan hancur dikala kehidupan menjadi kacau.
Serta di atas yang menempel dinding terdapat sebuah relief yang merepresentasikan gaya hidup atau lifestyle.
Mengingat saat ini permasalahan semakin besar seiring dengan perkembangan zaman.
"Kalau orang Jawa mengatakan ada turonggo, omah-omah, garwo dan ingon-ingon tercukupi maka dapat menjadi sultan. Tapi hak-hak manusia tidak bisa dihilangkan," terang seniman yang juga pernah membuat museum dengan UNESCO itu.
Selain karya Ramadha, ada pula karya Rita Dwika yang berjudul Urup. Karya itu berangkat dari upaya merespons bagaimana setiap manusia yang hakikatnya sebagai individu yang memiliki hak kebebasan justru malah kesulitan bebas karena terikat aturan norma sosial dan kekuasaan.
Sementara itu, Gallery Director UYCC, Aldridge Tjiptarahardja mengaku, penyelenggaraan pameran instalasi yang berbobot dengan tujuan bisa membawa pesan kepada pengunjung.
Banyak isu kemanusiaan, kematian atau genosida yang setiap hari terjadi dan membuat manusia kesusahan.
"Jadi exhibition ini lebih ke sisi kemanusiaan. Kita punya hak asasi manusia (HAM) dimanapun kita berada. Apalagi tiga hak yang kita punyai yakni hak kebebasan berpendapat, hak hidup dan hak aman dan nyaman. Dan ternyata seniman dapat merespon itu semua," kata Aldridge.
Dalam exhibition itu ada enam seniman yang ikut serta melalui tahapan seleksi dan kurasi. Dengan karya instalasi tersebut dianggap anak muda banyak yang suka dan gampang menyampaikan pesan.
Ada juga cerita instalasi yang berjudul Ruang-Ruang Kebebasan, Ring (In), Urip. Selain itu juga ada lukisan yang Berjudul Bersulang Untuk Para Petatung.
Lukisan karya Iwan Sri Hartoki itu menceritakan tentang cara bersulang yang memiliki nilai dan budaya masing-masing negara.
Kemudian membawa kita dalam pesan peperangan yang baik dan hebat adalah perang yang dilakukan dengan anggun dan beretika.
Bertarung dengan yang sama kuat dan imbang dalam kekuatan bukan menyerang yang lemah. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari