RADAR SURABAYA - Probiotik adalah suplemen populer yang telah dikonsumsi sebanyak hampir empat juta orang di Amerika.
Tak kalah banyaknya, probiotik juga digemari masyarakat Indonesia.
Probiotik sederhananya adalah mikroorganisme hidup yang terbuat dari bakteri dan ragi.
Suplemen ini umum ditemukan dalam bentuk kapsul dan makanan fermentasi seperti yogurt, acar, dan susu kefir.
Probiotik mempunyai potensi untuk memperlancar pencernaan, fungsi usus, serta mendukung kesehatan dan kekebalan tubuh.
Setelah mengalami rasa tidak enak di perut dan merasa lemas, probiotik adalah suplemen yang bagus untuk dikonsumsi.
Tapi kemudian mungkin muncul sebuah pertanyaan dalam benak Anda, “Kapan waktu terbaik untuk mengonsumsi probiotik?”
Jawabannya memang agak sedikit rumit.
Mengutip dari Eating Well, mereka berkonsultasi dengan ahli kesehatan, termasuk ahli gizi dan dokter yang memberitahu mereka apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum mengonsumsi probiotik.
Pertama-tama, kita perlu mengenali beberapa jenis dari probiotik.
Ada begitu banyak bentuk probiotik mulai dari kapsul, bubuk, hingga sirup.
Semua probiotik mencantumkan daftar strain probiotik, bahan yang terkandung, serta manfaat dari probiotik tersebut.
Merangkum dari pernyataan Kunal Lal, seorang ahli penyakit dalam, ia menyampaikan bahwa dari banyaknya kandungan yang ada di probiotik, dua yang paling sering ditemukan adalah Obacillus dan Bifidobacterium.
Pada umumnya, kedua strain probiotik ini dianggap aman dengan beberapa pengecualian khusus.
Memang tidak ada batasan khusus seberapa banyak CFU (Colony Forming Units) yang bisa dikonsumsi per harinya karena kebutuhan setiap orang dapat berbeda-beda.
Karena itu, setiap orang harus berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter agar mereka dapat mengetahui jumlah batasan konsumsi CFU harian mereka.
Elizabeth Shaw, seorang ahli gizi diet bersertifikat menjelaskan bahwa setiap probiotik memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Tidak ada probiotik yang berlabel satu untuk semua dalam penggunaannya.
“Sementara beberapa strain menguntungkan orang yang menderita penyakit pencernaan, beberapa strain lainnya berguna untuk orang yang memiliki alergi, jerawat, gangguan pernapasan, dan bahkan kesehatan gigi,” ungkapnya seperti dikutip dari eatingwell.
Selain bentuk-bentuk probiotik, hal kedua yang perlu kita pertimbangkan adalah kebiasaan diet masing-masing.
Cukup satu hari saja mengonsumsi panganan berserat rendah sudah dapat mengurangi macam-macam mikrobioma usus kita.
Makanan berserat dapat memelihara kesehatan pencernaan kita, karenanya diet kaya serat sangat penting untuk menjaga kesehatan usus.
Tapi mengonsumsi suplemen probiotik saja tidak cukup.
Di samping itu, sebuah studi mengungkapkan bahwa pola makan yang tinggi gula dapat membahayakan kesehatan usus.
Untuk itu, suplemen probiotik hanya dapat berperan sebagai suplemen saja, bukan sebagai kunci dari kesehatan.
Kondisi kesehatan dan konsumsi obat adalah hal ketiga yang perlu dipertimbangkan sebelum mengonsumsi suplemen probiotik.
Kebanyakan orang yang sehat dapat meminum probiotik dengan aman.
Dokter Lal menyarankan siapapun yang saat ini tengah mengonsumsi antibiotic, untuk memberi jarak waktu untuk konsumsi antibiotik dan probiotik mereka.
Antibiotik dibuat untuk menghilangkan bakteri tertentu untuk mengobati infeksi tertentu.
Jika dikonsumsi bersamaan dengan probiotik, maka antibiotik justru akan menghilangkan bakteri baik yang akan dimasukkan ke dalam tubuh kita.
Sebaiknya konsumsi probiotik dilakukan dua jam setelah meminum antibiotik.
Lal juga menyatakan bahwa orang-orang yang sakit parah dan dalam kondisi imunokompromais, pasien dengan kegagalan organ, orang dengan bakteri usus kecil berlebih, orang yang harus mengonsumsi kortikosteroid dalam dosis tinggi atau waktu lama, harus menghindari probiotik.
Konsumsi probiotik dengan pasien seperti kondisi seperti di atas dapat mengakibatkan ketidaksesuaian kandungan obat yang dapat menginfeksi dan membahayakan tubuh mereka.
Bagi orang yang bangun pagi atau bangun siang, belum ada kepastian mengenai waktu terbaik untuk mengonsumsi probiotik.
Jenna Braddock, seorang ahli diet kinerja menjelaskan, “Tidak ada alasan umum maupun alasan saintifis yang dapat diterima mengenai boleh atau tidaknya mengonsumsi probiotik di pagi hari. Bagi kebanyakan orang, mereka mengonsumsi probiotik di pagi hari karena pada saat itu lah mereka dapat ingat untuk mengonsumsinya.”
Elizabeth Shaw juga menambahkan, “Sementara strain dan jumlah probiotik dapat mempengaruhi bagaimana dan kapan harus mengonsumsi probiotik, aturan umum yang harus ditepati adalah berkonsultasi pada pihak medis untuk memastikan obat-obatan lain dan makanan yang dikonsumsi tidak akan mempengaruhi efisiensi efek dari suplemen probiotik tersebut jika dikonsumsi secara bersamaan”.
Selain itu, jika seseorang mengalami buang angin setelah mengonsumsi probiotik, meminum supelemen tersebut lebih awal juga dapat mengurangi rasa tidak nyaman dan membantu menghindari gangguan saat tidur.
Pertanyaan umum lain yang sering dihadapi oleh ahli kesehatan adalah tentang makanan.
Perlukah kita mengonsumsi probiotik dengan makanan atau tidak?
Shaw menjelaskan bahwa hingga saat ini, belum ada studi yang secara pasti membuktikan pertanyaan tersebut.
Membuat konsumen dan supplier obat-obatan bingung.
Ada studi yang mengatakan bahwa probiotik bakteri berlapis non-enterik harus dikonsumsi sebelum atau bersamaan dengan makanan yang mengandung lemak, agar bakteri probiotik dapat bertahan secara maksimal.
Tapi itu hanya satu studi, dan ada studi lain yang menunjukkan hasil berbeda. Tidak ada strain yang sama.
Braddock menambahkan, “Untuk kebanyakan suplemen, waktu terbaik untuk mengonsumsinya adalahs segera begitu ingat! Konsistensi adalah yang paling penting. Satu studi menemukan bahwa bahkan delapan hari setelah berhenti menggunakan probiotik, suplemen tersebut tidak lagi dapat ditemukan dalam usus.”
Tapi sekali lagi, apa yang berhasil untuk satu orang belum tentu berhasil untuk yang lainnya juga.
Untuk itu cobalah berkesperimen mengonsumsi probiotik dengan dan tanpa menggunakan makanan untuk melihat mana yang terbaik.
Semua ahli sependapat bahwa waktu terbaik untuk mengonsumsi probiotik adalah waktu mana yang paling berhasil untuk satu individu secara pribadi.
Mereka juga menyarankan untuk melihat label setiap produk untuk mengetahui instruksi waktu konsumsi setiap produk.
Tiap probiotik bisa jadi memiliki waktu konsumsi yang berbeda.
Lal mengingatkan bahwa penting bagi kita untuk memperhatikan reaksi tubuh terhadap setiap suplemen.
Dia berkata, “Jika kau merasakan rasa sakit yang tidak biasa, mual, atau diare saat meminum probiotik dengan atau tanpa makanan, mungkin kau perlu mengubah jadwal harianmu mengenai waktu konsumsinya.”
Shaw juga menekankan, “Menemukan mana yang paling coock dengan kebiasaan sehari-hari kita dan menyesuaikannya dengan pola makan kita dan menjadikannya kebiasaan adalah yang terpenting.”
Menurut para ahli kesehatan di laman EatingWell, waktu terbaik untuk mengonsumsi probiotik tergantung pada faktor setiap individu.
Patikan untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan petugas medis untuk memastikan probiotik mana yang aman untuk dikonsumsi.
Selain itu, perhatikan juga label setiap produk untuk mengetahui jika ada waktu konsumsi secara spesifik.
Jika arahan dari produk tersebut tidak sesuai dengan tubuhmu, beritahu kepada petugas medis.
Jangan lupa tanyakan jika boleh mencoba mencari sendiri waktu mana yang terbaik untuk mengonsumsi suplemen probiotik.
Juga perlukah makan sebelum mengonsumsi produk tersebut.
Sekali lagi, waktu terbaik untuk meminum probiotik adalah waktu yang paling sesuai dengan kondisi tubuhmu. (hel/opi)
Editor : Nofilawati Anisa