Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Takut Terbang? Kalian Tidak Sendirian. Intip Bagaimana Cara Orang-Orang Mengendalikan Kecemasan saat Penerbangan

Nofilawati Anisa • Selasa, 20 Februari 2024 | 00:48 WIB

 

SANTAI: Duduk di bangku lorong pesawat bisa menjadi aternatif untuk mengendalikan kecemasaat saat melakukan penerbangan. (IST)
SANTAI: Duduk di bangku lorong pesawat bisa menjadi aternatif untuk mengendalikan kecemasaat saat melakukan penerbangan. (IST)

RADAR SURABAYA - Terbang adalah kebutuhan pekerjaan bagi travel writer (penulis perjalanan) Lola Méndez.

Tetapi, sebagai pengidap klaustrofobia, hal ini sedikit mempersulitnya.

Klaustrofobia adalah rasa takut atau cemas seseorang ketika mereka berada di ruang sempit dan tertutup.

Pertama kali Méndez’s mengalami kecemasan di tengah penerbangan membuatnya terkejut.

Dia telah melakukan perjalanan penuh selama bertahun-tahun, sebelum dia mengalami hiperventilasi dan menangis di langit Papua Nugini pada tahun 2018.

Awalnya, Méndez mengaitkan reaksi fisiknya dengan rasa stres yang dialaminya ketika berada di dalam pesawat Cessna bermesin tunggal yang kecil.

Namun hal ini dengan cepat menjadi pola yang menyedihkan, baik pada pesawat dengan tempat duduk kecil maupun pada jet komersial besar.

“Namun sebagai jurnalis perjalanan, saya terbang sepanjang waktu. Jadi klaustrofobia adalah hal yang harus saya tangani,” ucap Méndez kepada Yahoo Life.

Dia melakukan banyak cara untuk mengatasi rasa takutnya.

Misalnya mengambil penerbangan terakhir yang akan mempersingkat waktunya berada di pesawat.

Mendez juga memesan bangku bagian lorong sedekat mungkin dengan bagian depan pesawat.

Ia juga mengonsumsi CBD sebelum terbang (hanya jika CBD dianggap legal di tempat yang akan dia kunjungi), mengunduh konten hiburan di perangkat elektroniknya untuk mendistraksinya di udara, dan membawa minyak lavender juga Xanax di tasnya sebagai cadangan.

Dia juga gemar berlatih Pranayama – sebuah latihan pernafasan yang sering digunakan dalam yoga – untuk membuat dirinya tenang.

Judy Lamb, seorang konsultasn perjalanan internasional mengatakan jika ia tidak takut untuk melakukan penerbangan.

Dia suka berada di udara, merasakan rasanya ketika pesawat lepas landas, berlayar dan mendarat.

Ayahnya sendiri adalah seorang pilot di Angkatan Udara Amerika Serikat.

Baginya, kecemasan datang dari hal-hal tambahan, seperti menavigasi bandara, menunggu di gerbang keberangkatan, menerima risiko penerbangan ditunda, dialihkan, dibatalkan, atau terjebak di landasan.

“Tidak ada yang lebih membuat cemas daripada duduk di atas aspal landasan,” ujar Lambs kepada Yahoo Life.

Lamb tidak dapat mengingat kali terakhir dia terbang.

Tetapi dia yakin penerbangan terakhirnya dilakukan tujuh tahun yang lalu.

Syukurnya, tempat tinggal kedua cucunya dapat ditempuh dengan hanya berkendara.

Bagaimanapun juga, dia tetap akan terbang jika ingin berlibur ke tempat yang jauh.

Di situasi seperti ini, khususnya jika membutuhkan penerbangan yang panjang seperti ketika dia terbang ke Italia, mungkin dia akan mengonsumsi Xanax.

Entah itu klaustrofobia, ketakutan akan keamanan, atau potensi terjadinya mimpi buruk, kecemasan sebagian besar orang berasal dari perasaan yang tidak terkendali.

Tetapi, kenapa dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya?

Setiap orang mengalami trauma kecil, dan pengalaman negatif ini seringkali dapat memberikan perasaan seolah-olah mereka tidak terkontrol atau tidak dapat melarikan diri.

“Situasi yang dialami ketika kita tidak dalam keadaan sedang terbang ini membuat pengalaman terbang terasa sangat besar, namun hal ini membawa kekuatan-kekuatan negatif, energi negatif,” Tom Bunn, seorang kapten maskapai penerbangan sekaligus terapis berlisensi.

“Kalian akan mengetahui bahwa sebagian besar orang yang memiliki kesulitan dalam penerbangan dengan beberapa keadaan tidak terkontrol yang serupa (seperti ketika berada di lift, jembatan, terowongan, tempat-tempat tinggi, dan MRI),” jelas Bunn.

“Umumnya bukan hanya tentang terbang yang membuat kita bertanya-tanya perihal tingkat keamanan pesawat, namun soal keamanan emosional,” imbuhnya.

Kebanyakan penerbang yang mengalami kecemasan mengembangkan strategi pribadi untuk lebih bisa mengendalikan atau mengurangi rasa kecemasan mereka.

Alat-alat pribadi tersebut dapat berupa minyak lavender dan teknik pernapasan atau paparan berulang atau obat resep.

Bunn juga menawarkan tiga tips yang dia yakini dapat membantu penerbang dapat mengendalikan dan mengurangi kecemasan mereka ketika berada di udara.

Cobalah untuk menemui pilotnya. “Tidak ada yang pergi ke rumah sakit untuk melakukan operasi tanpa menemui dokternya,” kata Bunn.

“Jika memang kamu menemui orang tersebut, kamu akan merasa lebih baik selama penerbangan,” ujarnya.

Dalam melakukan ini, Bunn mengajak para penumpang untuk tiba di area boarding lebih awal.

Lalu bilang kepada pramugara/pramugari (atau petugas gerbang) bahwa mereka adalah penerbang yang kerap mengalami cemas.

Selanjutnya, tanyakan jika merupakan hal yang memungkinkan untuk menyapa pilot sebelum lepas landas.

Ini dapat memberikan kesempatan bagi penumpang lain yang gugup mengenai kondisi cuaca untuk bertanya kepada pilot tentang kelancaran penerbangan ini dan tentang kemungkinan jumlah turbulensi yang akan terjadi.

Bisa juga mencoba latihan 5-4-3-2-1. Latihan ini dapat mengurangi stres.

“Jika terjadi sesuatu yang membuat Anda khawatir, perasaan khawatir tersebut disebabkan oleh pelepasan hormon stres,” jelasnya.

“Yang kami ingin kamu lakukan adalah berhenti memperhatikan sekeliling kalian selama 90 detik. Maka kalian dapat membakar hormon stres tersebut dan kembali tenang lagi,” ujarnya.

“Untuk latihannya, kalian harus melihat lurus ke depan. Kemudian buat lima pernyataan tentang apa yang kalian lihat dalam pengelihatan tepi kalian (jendela, seseorang menggunakan headphone, dll). Lima pernyataan tentang apa yang kalian dengar (dua orang sedang berbicara, seorang anak-anak tertawa) dan lima pernyataan tentang apa yang kalian sentuh (kerutan pada jok kulit, tepi sabuk pengaman yang kasar, sandaran tangan yang halus). Ulangilah prosesnya dengan empat hal yang kalian lihat, dengar, dan sentuh, dan terus ulangi hingga kalian dapat menyebutkan satu hal dari setiap indra,” Bunn memberikan solusi.

Bunn mengakui bahwa beberapa orang suka terburu-buru dan menyibukkan diri sebelum penerbangan berlangsung.

Dia mengajak orang-orang untuk melakukan persiapan yang cukup agar perjalanan menuju ke bandara, melewati bagian keamanan, dan menemukan gerbang keberangkatan mereka, tidak membuat stres.

Hal ini akan mengurangi kekhawatiran dan kecemasan yang mereka bawa sebelum naik ke pesawat.

Shingga mereka merasa lebih memegang kendali atas apa yang mereka rasakan saat berada di dalam pesawat. (sha/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#mengatasi takut terbang #pesawat terbang #travel writer #tips and trick #Klaustrofobia #takut naik pesawat