SURABAYA - Motif batik gentongan berasal dari Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura yang merupakan motif batik lawas.
Batik tersebut juga mempunyai filosofi pangesto yang artinya restu, dimana ketika ketika istri nelayan di kawasan Tanjung Bumi ditinggal pergi sang suami untuk mencari nafkah di laut, sang istri membatik di rumah.
Di tangan desainer muda, Tri Mutmainah, motif batik lawas itu menjadi kasual dan bisa menjadi uniform untuk kerja. Selain bisa menyerap keringat, batik itu juga terlihat santai.
Tri mengambil tema Batik and Coffee dengan mengkombinasikan batik gentongan. Kesan yang tadinya lawas, berubah menjadi epik. Sebagai desainer muda ia mempunyai kewajiban untuk mengenalkan batik agar digandrungi oleh kaum milenial.
"Karena selama ini banyak anak muda yang sudah nongkrong sambil menikmati kopi, sehingga saya angkat batik ini agar anak muda tahu batik adalah warisan budaya bangsa Indonesia," ujar Tri.
Ia menggunakan kain tenun toyobo yang dikombinasikan supaya tekstur kain dengan batiknya sama. Kain tenun itu juga dapat menyerap keringat, karena selama ini kain batik indentik sulit menyerap keringat dan panas.
Kain tenun toyobo berasal dari bahan serat alami yang memiliki karakter benang sangat rapat sehingga membuat kain ini menjadi dingin atau mudah menyerap panas. "Untuk kainnya saya buat dari tenun toyobo. Kainnya cukup tebal dan tidak mudah kusut juga," jelasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, batik gentongan tersebut merupakan batik khas daerah Tanjung Bumi. Dengan warna pekat membuat batik ini cocok digunakan dengan warna apapun.
Dalam pembuatannya, batik tersebut diberikan pewarna alami dan ditaruh di dalam gentong. Sehingga namanya disebut batik gentongan.
"Warnanya cocok untuk kombinasi warna lainnya. Jadi nggak begitu mencolok," imbuhnya.(rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto